Tradisi lisan dan tulis adalah alat refleksi untuk menjadi wadah kreatifitas dalam mengungkapkan sebuah gagasan atau ide-ide pemikiran dan skema sebuah budaya bangsa. Aksara atau tulisan mampu menggambarkan bagaimana kehidupan sosial yang menjadi sentra dari peradaban sebuah bangsa. Ada tiga jenis lisan yang akan kita bahas. Jenis lisan pertama adalah lisan murni seperti, dongeng yang diceritakan oleh ibu kepada anaknya ketika menjelang tidur. Kedua adalah ada semi lisan, percontohan yang bisa kita ambil adalah pertunjukan wayang yang mengkolaborasikan antara dongeng, visual, tarian serta tembang yang mengiringi. Lalu yang terakhir adalah material contohnya arcadimah patung Dewa Ruci.
Tradisi lisan pertama kali digunakan ketika tradisi tulis belum ada ketika zaman prasejarah. Lalu tradisi tulis mulai masuk ketika pada zaman tersebut sudah menuliskan naskah-naskah dengan tulisan tangan yang berarti periode sejarah Jawa dimulai. Seiring berlalunya waktu dari zaman ke zaman tradisi tulis pun mengalami pergeseran ke arah yang lebih modern tulisan tangan itu bisa dilakukan menggunakan media mesin ketik, komputer.
Mari kita lihat tradisi lisan dan tulisan ini sebagai penanda kebudayaan. Kebudayaan seperti apa yang mempengaruhi Indonesia? Dalam sejarah peradaban manapun pada dasarnya sebuah kebudayaan itu tidak pernah murni milik kebudayaan itu sendiri pastinya ada pengaruh budaya luar, asimilasi ,akulturasi, sintesis budaya, sintesis agama, dan sintetis adat istiadat dan tradisi. Lalu masyarakat mengambil kebudayaan mana yang lebih mendekati dan bisa di aplikasikan ke dalam kebudayaan mereka.
Albirumi, ilmuwan muslim abad ke 11 masehi yang memiliki konsep Seven Keshvar (Seven Climes) yang diambil dari persia kuno. Pembagian seven climes ini menunjukan ketika bangsa bangsa yang berada di dalam satu area yang memiliki satu tradisi, budaya, agama dan gagasan yang kurang lebih mirip. Ibnu Khaldun pada abad ke 15 telah membagi Seven Climatic area untuk mengetahui area mana yang berpotensi untuk area yang ideal untuk membentuk sebuah peradaban tinggi, dicetuskan ada beberapa wilayah yang mempunyai potensi tersebut yaitu India, Indonesia, China, Andalusia Selatan, Eropa, Yunani , Anatolia dan sebagainya.
Perkembangan Kesusasteraan Jawa
Sastra Jawa Kuno atau sering kali dieja sebagai Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam Bahasa Jawa Kuno pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke 1-14 masehi, dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk Prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Perkembangan kesusasteraan Jawa pada zaman kuno sekitar tahun 900-1500 M puisi di pengaruhi oleh India murni, masa ini dibangun tanpa terlepas dari Hindu-Budha dan Pra Islam. Daerah berikut adalah dimulainya gancaran kakawin, diantaranya adalah Jawa Mataram pertengahan, Kediri, Singasari, dan Majapahit.
Orang jawa sangat mengagungkan waktu. Hal ini terlihat pada sebutan “cakra manggilingan” yang berarti waktu terus berputar dan tidak pernah kembali. Anak itu di ibaratkan seperti anak panah yang di lepaskan dan tidak tahu akan hinggap di mana. Jika saja para orangtua tidak memperlakukan anak mereka dengan baik maka bersiap-siaplah mendapatkan balasan yang setimpal dari perbuatan orangtua terhadap anak tersebut. Sebelum mengajari mereka dengan metode parenting apapun, alangkah lebih baiknya jika orangtua pun harus belajar terlebih dahulu mengenai apa parenting (pola asuh) itu sendiri. Dengan pengetahuan yang mumpuni dan pemahaman yang kuat tentu tidak akan sulit untuk mengajarkan sang buah hati. Ada pepatah mengatakan bahwa anak itu adalah kitabul mubin atau kitab penjelas dari kedua orangtua mereka. Semua tingkah laku anak yang mereka lakukan adalah cerminan dari tingkah laku kedua orang tuanya mau disadari atau tidak. Terkadang kita marah atas tingkah mereka yang kurang menyenangkan kita memarahi, menghukumi, bahkan ada yang tidak segan memukul titipan Gusti Allah ini dengan seenaknya. Padahal jika kita menyadari segala tingkah laku mereka yang kita anggap nakal. Sudah sepatutnya kita sebagai orangtua banyak berinteropeksi diri dan memohon ampun kepada Allah atas segala dosa serta sai’ah atau keburukan dalam diri agar di gantikan dengan sifat-sifat hasanah yang berarti kebaikan. Jangan lupa untuk mendoakan mereka agar diberikan kesalehan, setelah melakukan hal tersebut barulah kita melakukan ikhtiar semampu kita dengan cara menasehati anak dan mencontohkan hal-hal yang baik lagi benar, sisanya kita serahkan kepada Allah agar hati anak itu Allah rubah. Orangtua pun dituntut untuk peka terhadap segala situasi ada kalanya ketika perasaan sayang yang berlebihan akan menimbulkan pengaruh buruk pada anak kita di kemudian hari.
Menjadi orangtua itu berarti harus pandai mengasah rasa yang muncul karena tidak semua rasa itu benar. Maka penting bagi kita mengidentifikasi rasa tersebut karena ujungnya tidak akan baik jika rasa yang dimiliki saja sudah salah. Dari rasa munculah karsa atau hasrat di hati yang ingin direalisasikan di dalam bentuk aksi,maka tahapan selanjutnya adalah cipta. Sebuah gagasan dari pikiran yang berakar dari rasa dan karsa sebelumnya, lalu yang terakhir adalah karya. Karya adalah bentuk tindakan nyata yang berasal dari ketiga unsur rasa-karsa-cipta dan karya. Mengolah rasa memang tidaklah mudah maka perlu panduan yang mutlak untuk mengukur rasa itu benar atau tidak menurut-Nya dengan Alquran dan Hadits sebagai pedoman. Pentingnya mengontrol rasa-karsa-cipta dan karya tentu saja akan berpengaruh terhadap pengasuhan kita terhadap anak.
Editor: Rida Maulidya
