Pengertian Ethnoscience / Ethnosains

Ethnoscience is the study of the system of knowledge of classification of material objects and concepts in different cultures trough the world. Contribution to document study and analyze important potensial of indigenous knowledge system of divers local people’s for future use and balance polusi planning and implementation which are now under threat of existence is the result of westernization and globalization.

Ilustrasi (Foto: moondoggiesmusic.com)

Ethnosains ialah sebuah sistem pengetahuan yang diklasifikasikan dalam material objek berupa konsep dalam budaya yang berbeda-beda di seluruh dunia. Paradigma dalam studi etnosains ialah berkontribusi untuk mendokumentasikan, menganalisis dan mengkaji pengetahuan akan budaya. Pengetahuan yang dianggap penting pada bidang lokal yaitu berbagai jenis pengetahuan yang sudah tertanam bahkan menjadi kebiasaan pada masyarakat setempat. Urgensinya, pengetahuan akan kebudayaan ini hadir untuk menyeimbangkan adanya upaya perencanaan dan implementasi masyarakat untuk mengharmonisasikan keilmuan barat dari globalisasi yang ada.

Menurut Ward Goodenough (1957) yang mengenalkan istilah etnosains pada tahun 1950-an dalam pemahaman bahwa local people system atau sistem emik, memiliki persepsi jika kedudukan yang ada dari bawah disebut masyarakat. Sementara itu etik diartikan pula dari atas kebawah atau top to bottom, sedangkan insider point of view yang berasal dari masyarakat. Bagaimana masyarakat sosial dalam mempersepsikan, berinteraksi dengan lingkungan serta alamnya (seperti alam/mahluk hidup lainnya)  yang tercerminkan melalui kata-kata maupun tindakannya.

Saat ini etnosains awalnya mungkin dekat dengan Antropologi tetapi sekarang Etnosains berkembang menjadi transdisciplinary (lintas disiplin). Terbukti, etnoparenting sebagai transdisipliner merupakan bentuk baru antara etnosains dan parenting. Kedua hal ini bergabung menjadi sudut pandang yang berubah, maka dari itu etnoparenting adalah sebuah disiplin baru. Tujuannya adalah untuk mengambil lebih komplit deskripsi dari pengetahuan kebudayaan yang digunakan untuk pemahaman. Ilmu pengetahuan ini lebih banyak mengemukakan kepada pengetahuan akan budayanya sendiri. Budaya yang melihat dari beberapa kategori dari apapun yang ada disekitarnya seperti binatang, makanan, obat ataupun tanaman. Salah satunya ialah Iber kesehatan sukamiskin yang diartikan sebagai pemanfaatan sistem informasi dan komunikasi kesehatan tradisional, transisi, dan modern untuk bidang informasi dan komunikasi masyarakat di wilayah Sunda Jawa Barat, Indonesia.

Kaitan Kearifan Lokal dengan Perkembangan Kesehatan

Pendekatan dasar dan metodologi sukamiskin merupakan kombinasi interaksi sistem informasi dan komunikasi kesehatan tradisional dan modern atau disingkat HiCS.  Strategi penelitian pelengkap berupa studi kualitatif dan kuantitatif. Penerapan pendekatan etno atau budaya ini dilakukan dengan sistem Leiden dalam metodologi pengukuran dan analisis pemanfaatan perawatan kesehatan masyarakat lokal. Analisis tersebut berdasarkan kedua sistem medis di wilayah penelitian, penyajian klasifikasi asli tumbuhan obat atau jamu, penyediaan implikasi untuk peningkatan kesehatan di masa depan di daerah pedesaan.

Meningkatnya minat akan etno komunikasi di bidang kesehatan di Indonesia baik dari sains maupun masyarakat, muncul dari beberapa perspektif tentang kesehatan. Pertama yaitu terkait tujuannya yaitu untuk menjangkau kelompok atau budaya yang berbeda di negara ini dengan maksud untuk merancang dan mengembangkan proses penelitian terapan, pelatihan, dan komunikasi. Pendekatan untuk menyesuaikan diri dengan kesehatan dan harapan penyembuhan masyarakat adat sendiri dengan tujuan untuk partisipasi lokal dalam memulai sistem pengetahuan, kepercayaan, dan praktik medis tradisional mereka.

Penguatan posisi budaya masyarakat lokal sebagai warga dalam masyarakat multikultural modern Indonesia. Ini adalah misi penting bagi kita sebagai akademisi untuk bersama-sama mengembangkan dan mempromosikan pendekatan multidisiplin menuju komunikasi etnik dalam kesehatan dan penyembuhan dalam konteks interaksi sistem lokal dan global untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan dan penyembuhan di seluruh Indonesia dan sekitarnya.

Kaitan Kearifan Lokal dengan Perkembangan Teknologi

Teknologi yang kian berkembang dari zaman ke zaman tentu akan mempengaruhi masyarakat. Teknologi pun berperan penting memudahkan orang-orang untuk lebih menghemat waktunya dalam membangun kehidupan. Contohnya, batik tenun NTT awalnya tentu menggunakan bahan alami, ada proses dan ritual yang sangat panjang sebelum menjadi sebuah kain batik tenun maka dari itu harganya cukup mahal. Pada hari tertentu masyarakat diwajibkan untuk memakai baju batik/tenun dan sebagian masyarakat NTT menggunakan motif atau corak nya saja bukan tenun atau batik yang sebenarnya. Jika kita belajar antropologi tentu saja hal ini  akan mempengaruhi ke sakralan penggunaan kain tersebut, karena untuk suku NTT yang menggunakan kain itu menunjukan kasta serta dari suku mana mereka berasal.

Beragam Jenis Kain Khas NTT (Foto: www.orami.co.id)

Jika kita lihat, perubahan terjadi karena ada upaya untuk survival. Ternyata metode yang bernilai spiritual itu berkembang. Masuknya berbagai nilai agama budaya spiritual yang ada di dalam sebuah masyarakat merubah paradigma. Tenun itu bukan hanya masalah memakai head ball. Tenun itu adalah proses seorang gadis yang menjadi wanita. Hal ini diartikan sebagai peralihan dari usia remaja ke dewasa, proses sakral yang melibatkan konsep seperti kehilangan keperawanan.  Sehingga wajib bagi wanita masyarakat NTT untuk mempunyai tenun agar bisa digunakan di acara pernikahan mereka.

Maka dari itu di upacara perubahan, masyarakat NTT menggunakan warna-warna berani seperti merah. Untuk kebanyakan masyarakat umum menilai bahwa tenun itu hanyalah sebuah kain corak yang indah tanpa memaknai esensi makna sebenarnya.

Konsep-konsep ini berubah karena banyak media-media yang masuk atau bisa disebut dengan intervening factor yaitu faktor yang menembus perubahan visi. Dalam hal batik, yang dipengaruhi ialah faktor ekonomi. Kemudian ada juga faktor masal, ketika orang tidak bisa memenuhi kebutuhan masal dalam waktu yang singkat. Akibatnya, terjadi perubahan pada tenun yang seharusnya diproduksi dengan menjalani sekian banyak prosesi yang membutuhkan waktu. Namun karena banyaknya permintaan besar yang memiliki nilai ekonomi, tentu saja akan berubah lajurnya dan mempersingkat prosesi yang seharusnya dilakukan.

Adapula hal lain yang menjadi contoh ialah pada komunitas kasepuhan yang narasumber kunjungi. Komunitas ini disebutkan memiliki keunikan berupa kesehariannya yang meliputi tentang padi. Namun uniknya, sampai detik ini mereka tidak pernah menjual padinya kepada masyarakat umum. Padahal di sekeliling gunung halimun itu banyak sekali ditumbuhi oleh padi-padi yang dijemur hasil panen. Padi yang masih diikat itu punya lebih dari 100 varietas. Mungkin banyak varietas lama yang tahan hama dan tekniknya pun masih diikat secara manual. Hal tersebut biasanya memiliki hubungan dengan kesenian, karena padi diikat dan proses pembawaan padi yang dijemur ke leuit ke (tempat penyimpanan) menjadi budaya keseharian mereka.

Selanjutnya terdapat sebuah kesenian yang bernama Rengkong. Kesenian ini berisikan seorang Pria yang memanggul bambu besar berisi padi di depan dan di belakangnya. Pria tersebut sambil memanggul padi melakukan sedikit tari-tarian yang dilaksanakan ketika fajar datang. Orang-orang di kampung itu bersyukur dan bersorak menyambut sang pria, hal ini menandakan padi yang sudah di jemur itu siap untuk di masukan ke leuit.

Rengkong (Foto: indonesiakaya.com)

Di samping kesenian tentu saja hal tersebut mempunyai konsep spiritual. Pada sudut pandang sosial, kita dapat menilik terkait proses pembawaan padi menuju leuit banyak sekali  butir-butir padi yang jatuh tidak dipungut ataupun di bersihkan. Karena masyarakat disana bilang bahwa butir padi tersebut bukanlah hak mereka melainkan hak makhluk lain seperti ayam, tikus, atau hewan lain yang memang rezeki mereka berasal dari sana. Ternyata orang tua kita di zaman dahulu sudah mempunyai konsep berbagi yang luar biasa. Hidup berdampingan sebagai sesama makhluk tuhan . mereka memandang itu sebagai kesatuan yang nyata. Kita ambil dari dua sisi baik dan buruk dari beberapa contoh di atas. Sisi baiknya kita bisa menganggap hal-hal itu sebagai kekayaan budaya kita yang harus dilestarikan sedangkan sisi buruknya makna daripada esensi kekayaan budaya itu telah hilang.

Tetapi ada masyarakat-masyarakat tertentu yang tetap mempertahankan makna  yang seharusnya.  Biasanya masyarakat yang bisa mempertahankan makna dari sebuah budaya adalah masyarakat kerajaan-kerajaan dari zaman dulu. Di zaman sekarang perguruan tinggi lah yang harusnya mengambil alih, untuk menjaga makna-makna tersebut dengan cara menyimpan, menuliskan serta mendokumentasikan agar tidak kehilangan nilainya.

Indigenous knowledge ini bekerjasama dengan Leiden University dalam membuat sebuah jurnal internasional dengan identitas ISSN 2776-3692. Silahkan kunjungi di situs ini untuk membaca lebih lanjut: jurnal.unpad.ac.id/ik

Referensi:

Editor: Rida Maulidya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *