Tradisi Pola Asuh Kebudayaan Suku Jawa (part 1)

Ilustrasi (Foto oleh Wahyu Widiatmoko di Pexels)

Peran orang tua dalam pendidikan anaknya merupakan hal penting dalam membentuk karakter anak. jika diibaratkan, orangtua adalah sebagai pemahat yang mengukir sebuah patung dan membentuknya sesuai dengan keinginan mereka, hasil baik atau buruk dari patung tersebut tergantung dari sang pemahat.

Peran orang tua disini adalah mengenalkan bagaimana  Sangkan Paraning Dumadi atau disebut juga  asal terjadinya penciptaan sehingga jika dikaitkan dengan islam istilah ini bisa disebut tawabah atau kembali/taubat. Pada dasarnya setiap orangtua mengharapkan keturunan mereka menjadi Wong (manusia) secara lahir dan batin-nya sempurna, mapan, berakhlak mulia dan mempunyai budi pekerti yang baik inilah makna kata Wong yang dimaksudkan.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa dihari pendidikan nasional dikatakan oleh ki Hajar Dewantara mengatakan orangtua sudah sepatutnya menjadi  teladan. Tidak hanya menyuruh anak saja dengan kata-kata, melainkan mencontohkan dirinya sendiri sebagai sosok teladan yang baik, motivasi, dan mengayomi, juga mensupport dari belakang.

Sekarang kita akan mulai masuk ke pembahasan pengasuhan suku jawa usia 0-5 tahun dalam tradisi jawa ada istilah-istilah yang seringkali disebut oleh masyarakat jawa bahkan ketika anak masih di dalam kandungan sang Bunda seperti, Neloni/tiga bulanan, Ngupati/empat bulanan, Mitoni/Tingkeban, tujuh bulanan/sapta kuwasa jati)

Tidak hanya upacara kehamilan yang mempunyai tradisi. Mitos dan pantangan Ibu saat hamil pun dipercayai oleh masyarakat Jawa agar pantang dilakukan seperti makan di cobek besar, sering mengepel lantai, tidak boleh berkata buruk, membunuh binatang, tidak boleh melihat gerhana, tidak boleh pergi di keramaian. Pantangan-pantangan tersebut dilakukan agar bayi tidak mengalami hal-hal yang buruk. Tetapi dengan seiringnya waktu, masyarakat Jawa yang semakin modern pun memilah dan memilih mana saja mistos yang masuk akal dan tidak.

selanjutnya, tradisi menyambut bayi lahir sebelum usia empat puluh hari yang pertama yaitu:

Tradisi Mendem Batir (mengubur tali ari-ari)

Masa kelahiran ini dimulai dengan menguburkan tali ari-ari/plasenta. Dengan cara mencuci nya terlebih dahulu kemudian dibungkus menggunakan kain kafan, lalu  dimasukan ke dalam pendil tanah liat dan dikubur. Di sekitar kuburan ari-ari tersebut akan diterangi oleh sinar lampu juga diletakan kurungan diatasnya agar tidak digali oleh binatang liar. Kuburan tali ari-ari ini harus dijaga selama tiga puluh lima sampai dengan empat puluh hari, hal ini pun terdapat didalam hadits Rasulullah SAW yang memerintahkan untuk mengubur tujuh hal potongan tubuh manusia seperti kuku, rambut, gumpalan darah, darah haid, gigi dan ari-ari. Makna dari diteranginya ari-ari yang diterangi oleh sinar lampu tersebut agar bayi itu memiliki penerang di dalam hidupnya supaya tidak tersesat.

Brokahan/Barokahan

Melanjutkan dari tradisi pertama selanjutnya ada tradisi Brokohan ini adalah tradisi membuat hidangan tertentu seperti nasi bancakan yang terdiri dari nasi putih, urap, ingkung, lauk pauk serta bubur merah dan putih yang melambangkan kedua orang tua yang ikut serta didalam kelahiran bayi tersebut. Kata Brokohan sendiri itu diambil dari kata Barokahan yang artinya memohon barokah kepada Gusti Allah agar bayi tersebut diberi keselamatan, sehat dan memohon pertolongan. Seminimalnya hidangan ini dibuat tujuh porsi sebagai simbol dari pitoe atau pitulungan (memohon pertolongan) untuk anak mereka agar diberikan rahmat. Kemudian dalam tradisi ini orangtua akan melihat hari lahir dan weton dari si bayi. misalkan hari kelahiran bayi itu hari senin, lalu wetonnya adalah pahing rumusan itu digabungkan dan terbentuklah sebuah angka yang terdapat di dalam buku paririmbon yang akan memetakan watak bawaan atau tabiat. Hal ini merupakan sebuah pendekatan bagaimana mengenali bayi tersebut calon manusia yang akan di-didik oleh orangtuanya.

Tradisi Sepasaran

Tradisi berikutnya adalah Sepasaran pemberian nama terhadap bayi ketika berusia lima hari (sepasar), pemberian nama ini bisa berdasarkan dari ari pasaran seperti weton wage kemudian nama bayi tersebut akan menjadi Wagiman, wagiyem, Wagiyah, Wagino dan lain lain. Atau bisa juga berdasarkan urutan kelahiran seperti Eka, Dwi, Tri dan seterusnya. 

Tradisi Puputan

Sedangkan Puputan adalah sebuah tradisi dimana tali pusar bayi telah mengering dan  lepasnya tali pusar bayi dengan sendirinya. Maka masyarakat Jawa mengadakan upacara selamatan dengan memotong nasi tumpeng sebagai simbol dari kebersyukuran.

Tradisi Aqiqah 

Jika di sederhanakan Aqiqah bisa juga disebut sebagai serah terima tanggung jawab dari malaikat kepada orangtua si bayi di hari ketujuh. Ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Samurah Bin Jundab berkata jika Rasulullah SAW bersabda : “ semua anak bayi tergadaikan dengan Aqiqahnya yang pada hari ke tujuhnya di sebmlih hewn kambing, diberi nama, dan di cukur rambutnya”

Tradisi Selapanan 

Tradisi Selapanan merupakan pengingat bahwa sang anak sudah bertambah umur, yang berarti bahwa si anak mengalami suatu perubahan, baik perubahan fisik maupun perubahan batin atau mental. Acara selamatan ini dilakukan saat sang bayi berusia 35 hari atau selapan. Perhitungan ini dihitung berdasarkan kalender Jawa, sehingga masyarakat Jawa menghitung hari dalam hitungan minggu sebanyak tujuh hari (Senin – Minggu) dan hitungan pasaran dimana satu pasaran berjumlah lima hari (Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi). Perhitungan selapan berasal dari perkalian antara tujuh dan lima yang menghasilkan 35 hari. Pada hari ke 35 ini didapatkan pertemuan angka kelipatan antara tujuh dan lima. Pada hari ini juga, hari weton si bayi akan berulang. Sebagai contoh, bila sang bayi lahir pada  Kamis Pahing, maka selapanannya akan jatuh tepat pada hari Kamis Pahing pula.

Pada saat tradisi selapanan ini dilakukan keluarga dari bayi tersebut telah membuat hidangan seperti bubur abang putih, sego bancakan untuk dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai  bentuk rasa syukur atas berkat dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Esa kepada sang bayi dan juga kedua orangtuanya.

Metode self parenting dimulai dari menyanyikan tembang dan mendongengi anak dengan kisah-kisah yang inspiratif. Memori anak akan merekam segala kejadian yang berkesan dalam hidupnya,  sehingga jika para orangtua memberikan kenangan yang menyenangkan kepada mereka ketika mereka masih kecil maka kenangan itu akan terus membekas di hati selamanya.***

Disarikan dari paparan Yeni Wulan K, A.Ks., praktisi parenting Jawa, dalam Webinar Tradisi Pengasuhan Anak di Suku Jawa pada Selasa, 25 Agustus 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *