Mengenal Pola Asuh Anak Suku-Suku di Indonesia

Ilustrasi (Foto oleh Charl Durand di Pexels)

Hidup dengan keberagaman di Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Kita selalu berdampingan dengan banyaknya perbedaan dari berbagai tradisi, suku, bangsa, etnis, daerah, dan juga budaya. Tenggang rasa di dalam kondisi hidup seperti ini merupakan bentuk toleransi kita sebagai masyarakat yang saling menghargai. Lalu, bagaimanakah cara kita mengelola keberagaman ini? Khazanah apa saja yang bisa kita gali dalam keanekaragaman ini? Lalu, apa yang membuat Indonesia memiliki ketahanan budaya di tengah arus masuknya budaya asing? Serta, bagaimana peran dan fungsi etnoparenting dalam pembangunan masyarakat ini?

Pendidikan di masyarakat dimulai dari lembaga terkecil yang kita sebut keluarga. Pola tingkah laku sebuah masyarakat akan berkualitas jika mendapatkan pola asuh yang baik, tepat, dan benar di keluarga. Pola asuh sendiri berbentuk interaksi orang tua dengan anak secara keseluruhan. Dalam hal ini, orang tua menstimulasi anak dengan memberikan contoh sikap dan perilaku, perhatian, peraturan, kedisiplinan, penghargaan, hukuman, pengetahuan, dan tanggapan terhadap keinginan anaknya. Orang tua juga memberi tahu nilai-nilai yang dianggap tepat sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Cara orang tua dari berbagai suku dalam menerapkan pola asuhnya biasa kita sebut sebagai Etno Parenting. Etno parenting merupakan sebuah konsep dalam pendidikan, pengasuhan, dan perawatan anak berdasarkan sistem nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat atau etnis tertentu. Di dalamnya terkandung nilai, sikap, dan tata cara masyarakat yang diyakini dapat memenuhi kehidupan warga masyarakatnya. Nilai, sikap, dan tata cara masyarakat ini berbentuk sistem keagamaan, sistem pengetahuan, bahasa, seni, sistem kehidupan, peralatan teknologi, organisasi sosial, serta sistem subsisten. Dalam praktiknya, Etno Parenting terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu: komunikasi lisan dan tulisan, stimulasi, serta observasi.

Model Parenting Nusantara bisa dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan wilayahnya, antara lain: Indonesia bagian timur, Indonesia bagian tengah, dan indonesia bagian barat. Kita akan mencoba untuk menarik benang merah yang saling berkaitan dengan konsep etno parenting yang akan kita bahas.

Secara umum, Etno Parenting Indonesia memiliki empat elemen utama. Pertama, Elemen Ketuhanan. Setiap etnis dari berbagai budaya akan memulai pola pengasuhannya dari mengimani Tuhan. Bagaimana pun, semua yang berada di dunia ini berasal dari Tuhan atau gagasan Ketuhanan. Hal ini berbeda sekali dengan teori dari barat yang jarang sekali menerapkan elemen ini dalam pola pengasuhan mereka. Kebanyakan teori parenting barat menganut kebebasan dalam beragama, ataupun tidak menganut agama sama sekali.

Elemen kedua adalah Jati Diri Manusia. Di suku-suku di beberapa wilayah di Indonesia mempunyai konsep tentang manusia yang paripurna menurut etnisnya. Meskipun dijabarkan dengan berbagai istilah yang berbeda-beda, tetapi intinya tetap sama.

Ketiga adalah Elemen Penjagaan Alam dan Lingkungan. Umumnya, setiap pengasuhan anak berhubungan dengan alam dan lingkungan. Bagaimana pun juga, manusia terkait dengan Tuhan yang bertugas di bumi. Contohnya, manusia harus bisa menjaga alam dan bumi ini agar tidak rusak. Tentunya, manusia membutuhkan dukungan alam untuk membangun sebuah peradaban dengan segala kebutuhannya guna mencapai kesejahteraan. Oleh karena itu, kita sebagai manusia tidak boleh mencemari, mengotori, dan bahkan menyakiti alam dan lingkungan. Manusia harus merawat lingkungan dan alamnya dengan baik.

Elemen terakhir adalah gotong royong. Pola asuh orang tua di Indonesia didukung oleh masyarakat di sekitarnya. Sebagai contoh, Suku Sunda yang mengasuh anak secara bersama-sama dengan tetangganya di kampung secara gotong royong, atau biasa disebut guyub dalam mengasuh anak.

Dalam konteks masyarakat Jawa, visi pendidikan masyarakat terdiri dari tiga unsur, yaitu: Kawula atau kulo atau bisa disebut juga manusia, lalu Gusti Allah, dan yang terakhir Jagat (Alam Semesta).

Sebagai Kulo, masyarakat suku Jawa tidak pernah menyebut Tuhannya hanya dengan kata Allah saja. Sebutan seperti ini dianggap tidak sopan karena hanya memanggil nama-Nya saja. Oleh karena itu, masyarakat Jawa menyematkan kata “Gusti Pangeran” sebagai gelar penghormatan terbesar dari hamba kepada Zat Yang Maha Tinggi.

Kata “Pangeran” sendiri terdiri dari kata ‘Pa’ yang berarti tempat, ‘ngenger’ yang bermakna mengabdi, serta ‘an’ yang juga berarti tempat. Jadi Pangeran berarti tempat untuk mengabdi. Dalam kitab Wirid Hidayat Jati karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, disebutkan bahwa manusia Jawa akan mendapatkan berkah bila menyandingkan nama Allah dengan Gusti Pangeran.

Untuk memahami makna Pangeran, nenek moyang suku Jawa diperintahkan untuk Ngenger, yaitu menjadi pelayan di sebuah keluarga. Hal ini ditujukan agar terbentuk mental yang senang melayani, tangguh, dan kuat. Oleh karena itu, orang-orang Jawa terdahulu menyuruh anak-anaknya untuk Ngenger di keluarganya.

Terkait dengan Kawula, konsep ini merujuk kepada jagat alit: sedulur papat kalima pancer. Kawula bisa juga disebut sebagai mikro kosmos sebagai turunan aspek kelimaan. Aspek-aspek ini berhubungan dengan pembentukan jasadiyah seorang insan dengan keempat unsur buminya, yaitu: angin, air, api, dan udara. Sedulur papat juga merujuk kepada empat malaikat hafadzah. Adapun pancernya adalah diri manusia sendiri yang merupakan sebuah kesatuan dari kelima aspek tersebut.

Kawulo ini melihat alam semestanya sebagai Jagat Ageng. Mereka akan Niteni atau menandai alam semestanya. Pada hakikatnya, manusia adalah Rahmatan lil alamin yang harus bisa membaca bahasa alamnya sekaligus juga memahami tanda-tanda dari Gusti melalui alam semesta. Maka, tugas kita sebagai manusia harus Mamayu Hayuning Bawana, atau biasa disebut sebagai Khalifatul fil ard. Kita harus bisa memahami bahasa alam untuk mengetahui kehendak Gusti melalui alam semesta.

Sebagai contohnya, ketika transisi pergantian musim hujan ke musim kemarau. Fenomena ini ditandai dengan adanya bunyi tonggeret yang menjadi isyarat datangnya awal musim kemarau. Itulah Niteni yang sering kita lupakan. Padahal, peristiwa tersebut merupakan metode pendekatan sebagai seorang Kawulo untuk memahami alam semestanya.***

Disarikan dari paparan Yeni Wulan K, A.Ks., praktisi parenting Jawa, dalam Webinar Tradisi Pengasuhan Anak di Suku Jawa pada Selasa, 25 Agustus 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *