Gotong Royong dalam Pengasuhan Anak

Sumber: https://images.app.goo.gl/9c8TPj61oe3nHbWu9

Gotong royong yang ada di Indonesia merupakan sebuah identitas bangsa, mempererat tali silaturahmi, budaya bangsa, meringankan pekerjaan ang bersifat umum maupun khusus, dan mempererat ikatan batin antar warga. Keterlibatan keluarga dalam implementasinya memerlukan adanya gotong royong dalam memberikan pengasuhan anak. Berikut ini sudut pandang gotong royong yang ada di Indonesia, diantaranya yaitu kampung Naga Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat diantaranya terdapat keturunan yang ingin mengubah tradisi maka dalam bentuk komunikasi/interaksinya yang menerapkan adanya pantangan atau larangan/perintah. Pola asuh yang diterapkan ialah memberikan sebuah contoh yang baik pada anak-anaknya, hal ini dikategorikan dalam keluarga petani yang bersifat otoriter namun senantiasa memberikan bimbingan yang penuh pengertian. Sedangkan kategori pengasuhan keluarga non-petani bersifat demokratis karena ibu mengasuh sambil bekerja Hal ini dilakukan dengan pemberian pengasuhan berdasarkan sumber nilai budaya/budi pekerti, wujud dari wasiat sepuh, adanya pantangan, larangan perintah, penanaman nilai sosialisasi secara formal dan informal, serta tradisi pada ibu hamil ialah menganggap penyambutan istimewa terhadap bayi. Sementara itu pada suku dayak ngaju di Kalimantan Tengah yang menerapkan upacara adat nyaki tihi yang memperingati umur kehamilan pada bulan ketujuh yang menerapkan nilai religius dari perilaku. Pola asuhnya menganut otoritatif yang memberikan kebebasan pa anaknya tetapi masih memberikan tanggung jawab atas kebebasan pada anaknya. Hal ini berupa pol asuh membentuk, mengontrol, kepatuhan, dan menggunakan paksaan dalam membentuk tingkah laku yang diinginkan. Lalu terdapat ritual nahunan berupa kegiatan Thian Agan dimulai dari ritual pra-nahunan, ketika kelahiran bayi dan saat sisa pusar bayi lepas. Suku bajo yang memiliki budaya keluarga yang menerapkan kasih sayang, saling mencintai, kesetiaan, menghormati, menjaga satu sama lain, mengasuh dan perhatian. Sementara itu di suku Jawa penerapannya berupa bilateral, prinsip nilai kejawen, istilah dadi wong, dan pola komunikasi dengan bahasa kromo. Sementara itu pada suku baduy dalam gotong royong yaitu nyambung, liliuran, dugdug rempug, dan tunggu lembur.

Disarikan dari paparan Yeni Rachmawati, Ph.D., dosen mata kuliah Etnoparenting Indonesia, dalam video conference zoom meeting Perkuliahan pertemuan ke-4 pada Rabu, 2 Maret 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *