Falsafah Ibu di Suku Sunda, Minang, dan Bugis

Ilustrasi oleh Zulfaworld

Falsafah ialah sebuah prinsip hidup dan peran ibu yang berpengaruh terhadap sebuah tindakan untuk memperoleh kebahagiaan dalam kehidupannya, hal ini bisa diarahkan kepada perbuatan luhur dalam memegang teguh norma yang diajarkan dalam kebudayaan masing-masing. Pada minangkabau dijelaskan bahwa wanita yang menjadi bundo kandung ialah yang limpapeh rumah nan gadang (penentu corak dan warna generasi), pusek jalo kumpulan tali (budi luhur), umbun puruak pagangan kunci (arif bijaksana, hormat & khidmat), dan kemuliaan surga. Pada kehidupan saat ini peran publiknya ialah mengambil keputusan dalam lembaga, terlibat dalam kegiatan sosial, peran ekonomi dalam mengisi adat terhadap anak/keturunan, dan pengembangan agama. Kekerabatan di minangkabau dikategorikan menjadi dalam suku dan luar suku yang diartikan sebagai kekerabatan yang ada karena pernikahan. Peran ibu keluarga minangkabau diartikan sebagai penyedia, pengurus rumah tangga, peran mengasuh anak, peran rekreasi, persaudaraan, terapeutik dan kesehatan.

Kedudukan Ibu Di Suku Banjar (Kalimantan Selatan, Sebagian Kalimantan Tengah & Timur), sangat identik dengan hikayat cerita mitos putri tanjung buih sebagai ikon perempuan banjar. Falsafah ibu diantaranya ialah baayun anak, baayun maulud yang berarti ada keterlibatan ibu untuk memasukkan anak ke dalam ayunan yang berada pada ruang tengah dari pagi hingga siang dan menjelang tidur. Teknik cara baayun anak ialah ayun lepas yang diartikan sebagai ayunan didorong lepas kedepan dan kebelakang untuk anak yang belum terlelap . Hal ini sangat mendekatkan hubungan yang lebih dalam antara ibu dan anak. Lalu ayun badundung/bakupung ialah ayunan yang menenangkan anak dengan bernyanyi pengantar tidur yang disebut bakurui. Hal ini membuat anak tenang karena dalam kondisi rewel dapat diayun dengan penuh kasih sayang. Sementara itu terdapat tradisi lisan yang terkenal ialah asalnya di rabung jua yang diartikan sebagai orang muda jangan memandang rendah orang tua sebab mereka sudah tahu tentang asam garam kehidupan terlebih dahulu.

Disarikan dari paparan Yeni Rachmawati, Ph.D., dosen mata kuliah Etnoparenting Indonesia, dalam video conference zoom meeting Perkuliahan pertemuan ke-3 pada Rabu, 23 Februari 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *