Pengasuhan Anak Berdasarkan Kearifan Lokal di Suku Tertentu di Indonesia

Sumber: Suara.com

Pengasuhan di Minangkabau memiliki pola pengasuhan dan pendidikan anak yang menjadikan sebuah tanggung jawab ibu & keluarga ibu atau dikatakan matrilineal Ada sebuah peran “mamak” yang pada tingkatan di keluarga, beliau adalah kakak/adik dari keluarga Ibu. Terdapat kutipan khas minangkabau bahwasanya “Anak dipangku, kemenakan dibimbiang” yang berarti pada sebuah anak terdapat peran “bapak” dan “mamak” yang memberikan perhatian serta pemenuhan hak bagi anak.

Pengasuhan di Sunda tentu saja terkenal dengan silih asah, silih asih, dan silih asuh sebagai sebagai semboyan sunda yang memuat adanya lekatan pada setiap bahasa dan tradisi di sunda. Nilai silih asah diartikan sebagai pemberian sebuah pendidikan formal maupun non-formal. Sebagai contoh dalam peran ayah di nilai silih asah ialah menentukan pembatasan jam malam dan melakukan hobi bersama anak sebagai wujud peran asah. Sedangkan ibu menjadi contoh untuk anak dan pengajaran sopan santun. Nilai silih asih diartikan sebagai perhatian dan kasih sayang yang biasanya memuat sebuah perilaku ayah dalam mengingatkan makan bersama ataupun beribadah. Adapun perilaku ibu yang lebih terpampang ketika kasih sayang diberikan dengan pelukan, memasak makanan dan mendengarkan cerita anak. Nilai asuh ialah peran yang ditekankan untuk melindungi anak contohnya pendisiplinan anak ialah memberikan hukuman atau aturan oleh seorang ayah dan pemberian nasehat dari ibu. 

Pengasuhan di Jawa erat kaitannya dengan ungkapan bahwa “pituduh (wejangan) tidak akan berhasil jika hanya diucapkan saja, tanpa dilaksanakan” menjadi inti dua peribahasa jawa yang tersirat bahwa ada kemauan orang tua dalam mengharapkan anaknya sukses dengan pribadi yang baik. Keberhasilan pengasuhan terbagi menjadi dua dalam daerah jawa yaitu Njawani dan Durung Jawa. Sedangkan model interaksi antar individu di Jawa yaitu kaidah kerukunan dan kaidah hormat. Prinsip kehormatannya ialah wedi/takut, isin/malu, dan segan/sungkan.

Disarikan dari paparan Yeni Rachmawati, Ph.D., dosen mata kuliah Etnoparenting Indonesia, dalam video conference zoom meeting Perkuliahan pertemuan ke-2 pada Rabu, 16 Februari 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *