Pengasuhan Anak dalam Reservasi Alam

Pelestarian keanekaragaman hayati lingkungan alam dapat dilakukan dengan cara konservasi yaitu preservasi dan reservasi. Preservasi merupakan pelestarian hutan dengan tujuan untuk diambil manfaatnya karena untuk kesejahteraan manusia. Contohnya seperti pemeliharaan hutan resapan, hutan lindung, hutan kota, hutan produksi. Sedangkan reservasi adalah membiarkan hutan dalam kondisi alami dan tidak mengganggu kelestarian yang ada di dalamnya seperti flora dan fauna, kemudian menjadikan kawasan hutan sebagai cagar alam atau suaka margasatwa.

Ada beberapa manfaat dari pengasuhan anak dan reservasi alam, diantaranya 1) menjadikan anak lebih aktif, pada organic parenting ini dapat menjadikan anak lebih aktif dan mampu bergerak bebas bermain, berlarian serta melakukan aktivitas motorik kasar yang bebas apa yang ingin ia lakukan. Selanjutnya yaitu 2) memperkuat otot dan tulang yaitu tubuh yang sering bergerak agar menjadi lebih sehat, 3) menyalurkan energi dengan penerapan organic parenting yang dapat membebaskan anak bermain di luar rumah untuk meningkatkan penyaluran energi besar yang dimiliki oleh anak, dan 4) membuat anak lebih peduli dan mencintai lingkungan.

Dengan adanya pengasuhan anak dalam reservasi alam pun, anak mampu mempelajari banyak hal baru seperti mengenal cagar alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman laut, kebun raya, dan taman hutan raya. Organic parenting ialah mengajak anak dengan melakukan pendekatan ke alam, yang mana pada dasarnya penggunaan alam yang ditujukan pada anak ini merupakan suatu keharusan sehingga anak lebih mengenal alam dan mulai mencintai serta melestarikan alam.

Prinsip pengasuhannya seperti menghidupkan kembali suasana harmonis seperti kehidupan di desa dengan memberikan internalisasi ajaran nilai-nilai pedesaan yaitu pendekatan dengan alam seperti kebun, sawah, hutan, sungai dan lain sebagainya. Hal ini juga diterapkan di suku yang berada di Indonesia seperti sunda, jawa, dan minangkabau dengan berbagai keunikan dan ciri khasnya masing-masing. nya. Hasil dari proses pengasuhan berdasarkan budaya ini senantiasa harus kita hormati, pelajari, dan apresiasi karena proses terbentuk nya perubahan dari akulturasi budaya menandakan sebuah kemajuan serta sebuah estetika dari budaya itu sendiri.


Pengasuhan anak dilakukan oleh kedua pasangan orang tua dengan cara mendidik dan membimbing anak, lalu orang tua pun memberikan berbagai kebutuhan pokok anak serta membantu dalam peningkatan berbagai aspek perkembangan anak. Adapun konsep organic parenting, yang mana bertujuan untuk mendekatkan anak dengan alam, menggunakan benda-benda yang ramah lingkungan, sehingga menciptakan suasana seperti hidup di pedesaan.

Organic parenting ini berkaitan erat dengan reservasi alam, yang merupakan suatu kegiatan dengan tujuan untuk menjaga alam agar tetap terjaga kelestarian flora dan faunanya, serta bertujuan untuk merevitalisasi alam. Fungsi dari organic parenting ini antara lain untuk menerapkan pola hidup sehat dalam keluarga, memberikan kesempatan membangun kedekatan antara orang tua dan anak dengan mengajak anak lebih dekat dengan alam.

Selain itu, penerapan pola asuh organic parenting dapat bermanfaat dalam memberikan stimulus sensori yang utuh pada anak, menjadikan anak lebih percaya diri dalam memecahkan permasalahan dan mengambil keputusan, serta menciptakan interaksi yang hangat melalui komunikasi antara orang tua dengan anak.

Dalam proses pelaksanaannya, orang tua dapat mencoba berbagai kegiatan yang dilakukan di luar ruangan bersama anak dengan memberikan kebebasan agar anak dapat bergerak aktif. Disisi lain, orang tua pun dapat memberikan contoh teladan dalam melakukan gaya hidup yang ramah lingkungan dan memberikan anak pelajaran berbasis alam. Di Indonesia, tepatnya pada masyarakat Suku Sunda terdapat peribahasa “Ciri Sabumi Ciri Sadesa”, yang artinya ialah bahwa di setiap lingkungan memiliki ciri dan tata cara tersendiri yang mempengaruhi tindak tanduk para masyarakatnya.

Adapun pada masyarakat Suku Jawa, memiliki tradisi menyimpan sesajen di dekat pohon besar, muara sungai atau mata air. Hal ini bertujuan agar tidak ada orang yang berani untuk menebang pohon ataupun mengotori tempat-tempat yang sudah diletakan sesajen. Dan yang terakhir yaitu contoh penerapan organic parenting di Suku Minangkabau. Masyarakat Minangkabau di kenagarian Selayo, Kabupaten Solok, memiliki tradisi turun temurun yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas kelahiran seorang bayi. Tradisi ini dinamakan dengan tradisi “Turun Mandi” yang digelar di sungai dengan prosesi arak-arakan.

Makna yang terkandung dalam tradisi ini yaitu untuk mengenalkan bayi dengan lingkungan sekitarnya, agar ketika besar nanti bayi tersebut dapat dekat dengan alam, hidup dari alam, dan melestarikan alam.

Disarikan dari paparan Yeni Rachmawati,Ph.D., dosen mata kuliah Etnoparenting Indonesia, dalam video conference zoom meeting perkuliahan ke-9 pada Rabu, 30 Maret 2022.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *