Kaulinan Barudak Tradisional Suku Sunda

Kaulinan di dalam bahasa Indonesia yang berarti adalah permainan, yang artinya permainan, berasal dari kata ulin yang artinya main, dan barudak artinya adalah anak-anak, orang Jawa Tengah atau Jawa Timur menyebutnya dolanan bocah. Permainan anak-anak ini merupakan permainan yang secara tradisi sudah ada sejak dahulu. Ada beberapa permainan tradisional dari masyarakat jaman dahulu yang masih di lakukan hingga ke era sekarang. Sudah menjadi kebiasaan suku sunda untuk menghibur anak-anak mereka dengan cara mengajak mereka bermain. Umumnya permainan yang dilakukan beserta nyanyian-nyanyian dengan bahasa sunda yang khas sebelum permainan dimulai.

Ucang-Ucang Angge

Permainan Ucang-Ucang Angge
Sumber: http://www.gspradio.com/2015/01/permainan-ucang-ucang-angge.html

Lagu Ucang-Ucang Angge ini merupakan lagu anak yang dipakai untuk mengajak anak bermain semasa kecil. Permainan ini dilakukan dengan cara orang tua atau orang dewasa yang duduk ditempat yang lebih tinggi dengan kaki yang bergantung. Anak akan duduk di kaki orang tua dengan tangan yang dipegang setelah itu kaki digerak-gerakkan ke atas dan ke bawah, gerakan inilah yang disebut Ucang-Ucang. Terdapat lirik “Ari gog-go cungungung” dan saat dinyanyikan kedua kaki diangkat lebih tinggu seakan-akan anak sedang bermain kuda. Selain dilakukan dengan cara duduk, Ucang-ucang Angge juga dapat dilakukan dalam keadaan tidur telentang dengan kedua kaki di atas dan anak duduk di ujung kaki orang tua dan anak berhadapan langsung dengan wajah orang tua.

Lagu permainan Ucang-Ucang angge ini memiliki tujuan untuk membangun kedekatan bersama orang tua dan orang terdekat lainnya. Membangun sebuah hubungan yang lebih kuat dengan keluarga, karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan terdekat dengan anak. Selain itu, permainan Ucang-Ucang Angge ini dilakukan secara langsung, adanya komunikasi dan kontak fisik langsung yang membuat interaksi dengan orang tua pun lebih intens. Menurut Wakih, A. A., & Sidik, G. S. (2020) mengatakan bahwa Ucang-Ucang angge merupakan salah satu cara untuk membuat anak dan orang tua menjadi lebih erat hubungannya dan berdampak baik bagi anak kedepannya, serta saat anak sedang bermain Ucang-Ucang Angge ini anak akan senang dan selalu tersenyum riang. Hal ini mendukung bahwa permainan-permainan tradisional harus selalu dilestraikan dan diperkenalkan pada anak-anak agar dapat terus menjadi permainan yang dapat menemani masa kecil anak.

Hahayaman

Hahayaman yang diambil dari Bahasa Sunda Hayam yang artinya ayam. Dalam bahasa Indonesia, permainan ini dikenal dengan istilah ayam-ayaman. Permainan ini dimainkan dengan pemain yang cukup banyak.

Permainan Hahayaman
Sumber: https://lokalklik.com/permainan/hahayaman/

Para pemain membuat lingkaran besar, kemudian anak yang bertindak sebagai “ayam” dikejar oleh anak yang bertindak sebagai “musang” sampai dapat. Namun terdapat peraturan, bahwa musang tidak boleh menangkap ayam jika sedang memasuki lingkaran tersebut.

Apabila musang berhasil menangkap ayam, maka permainan dimulai lagi dari awal, dengan memilih peserta lainnya untuk menjadi ayam dan musang yang baru. Permainan hahayaman ini dapat melatih ketangkasan serta melatih anak dalam mengambil keputusan. Meskipun permainan ini sudah sedikit jarang di mainkan di kota-kota besar, namun untuk masyarakat di pedesaan, permainan ini masih sering di mainkan oleh anak-anak.

Ambil-Ambilan

Ambil-Ambilan
Sumber: https://rupasundapura.blogspot.com/2017/10/ambil-ambilan.html

Ada lagi permainan yang cukup seru dengan nama Ambil-ambilan. permainan ini adalah permainan tradisional khas Jawa Barat yang bisa dikatakan sudah sangat jarang dimainkan. Permainan ini dilakukan dengan dua kelompok anak yang berjajar dan saling berhadapan, sambil bernyanyi lagu sisindiran khas Sunda. Para anak yang terbagi atas dua kelompok tersebut berupaya menghabiskan masing-masing kelompoknya secara bergantian. Mereka berhak memilih siapa saja yang akan ditarik untuk masuk kelompoknya.

Ayang-Ayang Gung

Ayang-Ayang Gung
Sumber: https://apuy-puye.com/ini-dia-permainan-tradisional-khas-sunda-yang-terkenal-di-masanya/ayang-ayang-gung/

Permainan tradisional Sunda berikutnya adalah Ayang Ayang Gung. Permainan ini merupakan permainan kelompok yang dilakukan secara berjajar sambil memegang pundak (merangkul) satu sama lain dan bernyanyi lagu berbahasa Sunda.

Anak-anak merangkul kawannya, sambil bernyanyi dengan perlahan hingga bernada cepat sampai durasi lagu habis. Lalu, pemain langsung mencari temannya agar tidak disuruh jaga (berhitung).

Biasanya permainan tersebut dilakukan sebelum memulai permainan ucing sumput (petak umpet) di kalangan anak anak Sunda. Sama seperti Ambil-ambilan, permainan ini juga memiliki nyanyian khusus berbasa sunda sebagai pengiring selama permainan berlangsung.

Gatrik

Gatrik
Sumber: https://www.mangyono.com/2013/04/permainan-tradisional.html

Gatrik merupakan permainan yang lebih banyak dimainkan oleh anak laki-laki. Permainan ini menggunakan dua buah bambu berbeda ukuran, yaitu satu pendek dan satu panjang. Dengan beberapa gerakan, bambu pendek dipukul dan dilontarkan dengan bambu panjang.

Boy-Boyan

Boy-Boyan

Permainan ini cukup sederhana. sahabat hanya membutuhkan pecahan genteng dan bola kasti. permainan ini terdiri dari tiga sampai dengan maksimal sepuluh orang.

bisa di bilang permainan ini mirip seperti Baseball dan Bowling hanya saja lebih tradisional . Cara bermainnya adalah menyusun pecahan genteng hingga cukup tinggi pecahan tersebut di jaga oleh seseorang, lalu satu orang-orang berikutnya, secara bergantian menggelindingkan bola hingga mengenai susunan genteng tersebut. Jika tepat mengena ke pecahan genteng dan berhamburan, maka pemain lainnya lari menjauh. Namun, jika pelempar luput mengenai, maka pelempar tadi menjadi penjaga genteng tersebut. Begitu terus hingga genteng terkena lemparan.

Jika genteng sudah berhamburan, sang penjaga tersebut harus menata kembali dan mulai melempar bola sebisa mungkin mengenai pemain lainnya. Penjaga harus mengenai semua pemain. pemain yang telah terkena bola akan menjadi Balad atau bisa kita sebut sekutu, yang dimana fungsinya adalah sebagai partner untuk memburu para pemain yang belum terkena bola. Jika sebelum kena semua pemain dan genteng dihamburkan lagi, maka penjaga harus menatanya lagi lalu berburu pemain lainnya.

Itulah beberapa permainan tradisional Sunda yang bisa Sahabat mainkan. Masih banyak lagi permainan tradisional Sunda lainnya seperti sorodot gaplok, paciwit-ciwit lutung, oray-orayan, dan lain-lain.

Referensi:

Wakih, A. A., & Sidik, G. S. (2020). Nilai Literasi Kakawihan untuk Mengasuh Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 20(2), 177-184.

Oleh: Diandra Adiani Dharma

Editor: Arinny Octaviani & Rida Maulidya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *