Tradisi Pola Asuh dan Kebudayaan Suku Jawa (Bagian 2)

Melanjutkan dari bagian pertama, kita akan masuk ke dalam tradisi Suku Jawa dalam menggabungkan antara tradisi serta pola asuh secara bersamaan. Tradisi pengasuhan anak di atas dilakukan dalam rentang waktu empat puluh hari, antara lain :

Tedhak Siten

Tedhak Siten adalah rangkaian prosesi adat dari tanah Jawa yang diselenggarakan pada saat pertama kali seorang anak belajar menginjakkan kaki ke tanah. Tedhak berarti turun, dan sit n artinya tanah. Tradisi ini biasanya dilakukan saat anak berusia sekitar tujuh bulanan, dan pada tradisi ini juga berisi semua harapan dan Arahan dalam hidup. Di dalam prosesi ini orangtua harus mendampingi anaknya hingga selesai. Proses awal tradisi ini yaitu, bayi dipanjatkan pada tangga yang terbuat dari tebu.Tangga dianalogikan seperti kehidupan, yang mana jika tidak berjalan sesuai alur, yakni tidak berjalan lurus ke atas maka nanti akan roboh.

Selanjutnya, pada proses kedua bayi akan melalui proses napaki jadah atau berjalan di atas jenang yang terbuat dari ketan. Ada tujuh warna jadah yang harus dilewati bayi. Ketujuh warna tersebut meliputi hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning dan putih. Maknanya, hidup berawal dari yang gelap dan berakhir dengan terang.

Proses ketiga adalah si bayi dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang diibaratkan sebagai simbol dunia. Kurungan itu berisi aneka macam mainan, mulai yang berbentuk alat dapur hingga alat musik. Bayi harus memilih satu dari sekian banyak mainan yang diletakkan dalam kurungan, hal ini merupakan simbol dari si anak dalam memilih profesinya kelak ketika sudah dewasa.

Semua simbol profesi yang ada di kurungan, menjadi semacam penuntun bagi bayi dalam memilih pekerjaan nanti.Usai mengelilingi ‘dunia’, bayi diharuskan memilih tokoh wayang yang dipercaya dapat membentuk karakternya ketika tumbuh dewasa.

Selanjutnya, pada proses keempat ini bayi akan dimandikan dengan air dari tujuh sumber. Pitu (tujuh) sumber mengandung makna pitulungan. Setiap sumber memiliki warna, rasa dan khasiatnya sendiri. Harapannya, agar dalam hidup selalu mendapatkan pitulungan atau pertolongan dari Tuhan yang maha kuasa.

Proses kelima, si bayi ditempatkan dalam tikar yang sudah diberi uang koin dan beras kuning. Hal ini dimaknai, bahwasanya rejeki dilambangkan oleh uang koin serta kehidupan dalam mencari panguripan dan upo (butiran nasi) dilambangkan dengan beras kuning. Arti filosofi dalam proses ini, meski bergelimang uang dan kesejahteraan jangan sampai terperdaya. Terakhir, dalam prosesi ini si bayi digaulkan dan dibiarkan bermain dengan teman sebaya. Maknanya, karena dalam hidup selalu butuh teman dan bersosialisasi. (sumber: malangvoice.com)

Bancakan Weton

Bancakan Weton adalah ucapan syukur atas rahmat-Nya sekaligus sebagai permintaan untuk – Nya agar orang yang selamat keselamatan dan kesuksesan, dijauhkan dari marabahaya, serta terhindar dari musibah/bencana. Seminimal Bancakan weton harus dilakukan satu kali seumur hidup. Menu yang disajikan hampir mirip dengan bancakan yang sebelumnya, hanya saja menu-menu khusus Bancakan Weton ini ada makna lain dibaliknya. Seperti sajian telur yang membuka tujuh, sebelas, dan tujuh belas butir yang artinya, Pitu (tujuh) yang mengharapkan pitulung /pertolongan , sebelas/ sewelas yang artinya welas yang berarti belas kasih, sedangkan pitula /tujuh gabungan dari pitulung dan welas yang memohon pertolongan dan belas kasih.

Sedangkan untuk sayurannya sendiri terdapat tujuh jenis sayuran, ditambah dengan bumbu urap yang berbeda. Untuk anak yang berusia sewindu atau delapan tahun, bumbu yang di buat tidak pedas sedangkan untuk usia anak yang melebihi delapan tahun boleh dibuat pedas. Selain itu, di dalam menu ada juga empat macam polo-poloan seperti pendem, gumantung, rambat, dan kacang-kacangan.

Adapun menu lainnya yaitu tumpeng putih, jajanan pasar seperti kue yang terbuat dari tepung beras, ketan, ubi dan sebagainya. Lalu, untuk melengkapi tradisi dari acara Bancakan Weton ada pula kembang-kembangan yang disimpan di nampan terpisah, yang biasa disebut sebagai kembang setaman yang terdiri dari bunga mawar, melati, dan kanthil. Syarat tambahan lainnya adalah bubur abang putih, uang logam, kopi dan teh, serta wewangian.

Tradisi Ruwatan Anak.

Tradisi ini biasa dilakukan ketika usia anak menginjak usia delapan tahun atau lebih .Kenapa diruwat? Sebab dipercayai bahwa pada usia tersebut anak menjadi lebih rentan dalam membuat sebuah kesalahan atau tertimpa kesialan. Sang anak bisa disebut sebagai Jalmo yang membawa malapetaka dan bencana . Maka dari itulah upacara ruwatan dilakukan agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Jenma sukerta adalah sebutan bagi si anak yang akan diruwat. Berikut jenis Jenma Sukerta di dalam ruwatan yaitu :

a. Ontang-anting, yaitu anak tunggal lelaki tanpa saudara unting-unting atau biasa disebut anak tunggal perempuan;

b. Uger-uger lawang, yaitu dua-duanya merupakan anak lelaki;

c. Kembang, artinya dua-duanya merupakan anak perempuan; 

d. Kedhana-kedhini, artinya dua anak, satu lak-laki dan satu perempuan;

e. Kedhini-kedhana, artinya dua anak, perempuan dan laki-laki;

f. Pandawa, artinya lima anak laki-laki semua;

g. Pandawi ngayoni, artinya lima anak perempuan semua;

h. Sendang kapit pancuran, artinya tiga anak perempuan tengah;

i. Pancuran kapit sendang, artinya tiga anak laki-laki tengah;

j. Madangake, artinya lima anak laki-laki dan satu anak perempuan;

k. Apil-apil, artinya lima anak, diantaranya empat anak perempuan dan satu anak laki-laki;

l. Bathang ngucap, artinya bila ada seorang diri berjalan di siang hari bolong tanpa sumping daun-daunan dan tidak berbicara 

m. Ontang-anting lamunthing, artinya lahir tanpa ari-ari atau lahir terbelit usus atau lahir bule atau lahir tidak seperti umumnya.

Tradisi Emban Jarik 

Emban adalah sejenis kain batik bercorak yang berukuran panjang membentang serta digunakan untuk menggendong bayi/anak kecil pada zaman dahulu. Meskipun zaman sekarang sudah banyak alat gendong yang lebih praktis, tetapi untuk beberapa masyarakat Jawa masih ada yang menggunakanya hingga saat ini.

Tradisi Menidurkan Bayi dan Mendongeng Sebelum Tidur

Biasanya, masyarakat Jawa sering membisikan kidung atau nyanyian kepada anak mereka menjelang tidur seperti nina bobo. Lantunan yang dinyanyikan seperti shalawatan nabi, lalu ada lagu yang berisikan dzikir kepada Gusti Allah, ada juga  lagu dalam bahasa Jawa yang bermakna baik dengan tujuan agar menjadi do’a untuk si anak. Ketika menjelang tidur, para ibu menceritakan sebuah kisah yang menarik untuk menemani buah hati mereka hingga terlelap. Kisah yang diceritakan pun sudah sangat kita kenali. Seperti cerita tentang Bawang merah dan Bawang putih, Ande-ande lumut, Timun mas, maupun Si Kancil. Tradisi mendongeng ini biasanya disatukan dengan tembang yang mendayu.

Edited by : Silmi Nur Falah

Disarikan dari paparan Yeni Wulan K, A.Ks., praktisi parenting Jawa, dalam Webinar Tradisi Pengasuhan Anak di Suku Jawa pada Selasa, 25 Agustus 2020 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *