Site icon Etnoparenting Indonesia

Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga Bugis Rappang, Sulawesi Selatan (Poster)

Poster oleh Rahmah Raisah Rabbani, Mahasiswa Magister PAUD Universitas Pendidikan Indonesia

Suku Bugis (Lontara: ᨈᨚ ᨕᨘᨁᨗ) merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat. Orang tua dalam keluarga Bugis dalam pengasuhan anak mempunyai keinginan untuk menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang ideal seperti menjadi: Topanrita (cendekiawan agama), Toacca (cendekiawan umum), Tosugi (orang kaya), Towarani (orang berani), dan Panggalung Napaddarek (petani sawah dan kebun).

Ada tiga pola pengasuhan anak keluarga Bugis Rappang. Pertama, Pola Resopa Temmangingngi, Namalomo Naletei Pamase Dewata. Pola ini menyatakan bahwa hanya dengan mengasuh tanpa rasa bosan akan mendapatkan rahmat dan berkah Allah SWT. Pola asuh ini kadang-kadang dilakukan orang tua dengan cara demokratis dan otoriter.

Kedua Pola Melo Manre Dekna Melo Mareso. Pada pola ini, orang tua hanya menginginkan bahwa kelak anak-anaknya menjadi orang yang dapat memberikan materi dan ketenangan di hari tuanya tanpa memberi pengasuhan secara maksimal. Pola asuh ini kadang-kadang dilakukan orang tua dengan cara permisif dan otoriter.

Ketiga, Pola Wija Lawo Mubbakko, Wija Batu Tellekko. Pada pola ini, orang tua mengasuh anak-anaknya dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuan yang dimilikinya. Pola asuh ini kadang-kadang dilakukan orang tua dengan cara otoriter dan demokratis.

Pengasuhan anak dalam Keluarga Bugis Rappang melalui empat saluran, yaitu: Abiasang (kebiasaan), Pesan-pesan (paseng), Nasihat (pangaja), serta Gaukeng (perbuatan, perhatian, dan keteladanan).

Orang tua (generasi lama) dalam keluarga Bugis Rappang dalam mengasuh anak cenderung bersifat otoriter dan religius, dan anak (generasi baru) cenderung ke sekuler dan modern. Di sinilah muncul perubahan dalam pola pengasuhan anak.

Masyarakat Rappang adalah masyarakat tani yang agamis, karena penduduknya semua beragama Islam. Namun, pengetahuan agamanya masih rendah. Mereka memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga dapat menerima perubahan yang merupakan hasil sains dan teknologi modern, selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai budaya Bugis dan Islam.

Referensi: H. Nasir Baki. (2006). Pola Pengasuhan Anak dalam Keluarga Bugis (Studi Tentang Perubahan Sosial dalam Keluarga Bugis Rappang di Sulawesi Selatan). Doctoral Thesis, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Exit mobile version