Tangisan seorang bayi adalah alunan lagu yang merdu dan didambakan oleh pasangan suami istri yang baru menikah. Hal ini diartikan bahwa seorang anak merupakan tanggung-jawab orang tua dalam menghadapi perkembangan hidupnya. Orang tua harus menanamkan nilai-nilai atau norma yang akan menjadi panutan dan pegangan hidup anak kelak. Untuk itu pendidikan yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap anak dimulai dari dalam kandungan hingga awal pernikahan anak.
Sifat dasar dan pola pengasuhan mempengaruhi perkembangan individu. Aspek komunikasi yang penting dialami anak sebagai bayi adalah pola saling bertukar peran dalam percakapan atau dialog interaktif. Hal-hal yang disampaikan ibu kepada anaknya di antaranya tentang pembelajaran, pengalaman, dan nilai-nilai yang ingin disosialisasikan kepada anak agar mereka dapat belajar langsung (Nurhadi dalam Permatasari & Inten, 2020). Baik itu dari pengalaman ibu atau dari lirik hariring yang dilantunkan ibu. Ketika ibu melantunkan hariring maka bayi ikut berperan aktif di dalam percakapan baik lisan ataupun non lisan sehingga tanpa disadari komunikasi pun dapat terbangun dengan baik. Bahasa tidak diperoleh dengan pengamatan tetapi dengan menggunakannya (Otto, 2015).
Sejak dilahirkan anak langsung dapat mendengarkan berbagai kata yang diucapkan atau dituturkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kata-kata yang didengarnya bisa berupa nyanyian atau hariring indung yang disenandungkan seorang ibu ketika menidurkan atau mengajak anak bermain. Berdasarkan data yang diperoleh, 60% ibu yang melakukan hariring menggunakan kawih Sunda atau Bahasa sunda yang diciptakan oleh si ibu sendiri, sedangkan 40% mengiringi tidur anak dengan sholawat dan kawih atau lagu dengan Bahasa Indonesia (Permatasari & Inten, 2020).
Hubungan ibu dengan bayi akan langsung dirasakan manakala bayi menangis, di sini pengenalan akan kasih sayang sudah mulai ditanamkan. Dengan penuh kasih sayang seorang ibu akan mepende (meninabobokan) dengan cara gendong sambil dinyanyikan agar bayi terbuai dan cepat tidur. Biasanya lagunya adalah neleng-nengkung, ayun ambing dan dengkleung. Ketiga lagu itu berisikan harapan orang tua (ibu) kepada anaknya agar kelak dapat menjadi orang yang berguna, berpendidikan, menjadi orang yang kuat dalam menghadapi kehidupan. Pertumbuhan bayi akan terlihat jelas ketika bayi sudah dapat nyangigir (tidur miring), maka orang tua akan mengajak bicara dengan kata-kata yang agak jelas, seperti enen (meminta untuk menyusui), gerakan bayi kemudian dilanjutkan dengan nangkuban (tengkurap) dan tahap selanjutnya (Rusnandar, 2017).
Menurut Yani (2020) mengemukakan bahwa tradisi lisan merupakan warisan budaya (cultural heritage) yang diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya dengan menggunakan media lisan. Tradisi lisan mengandung berbagai kearifan lokal, nilai-nilai budaya, norma-norma budaya luhur yang dapat dimanfaatkan masyarakat selama beberapa generasi secara terus menerus (Sibarani dalam Yani, 2020). Salah satu tradisi lisan (oral tradition) yang ada dan tidak lagi mengalami proses regenerasi atau pelestarian secara massif yaitu tradisi mepende. Tradisi mepende ini merupakan tradisi menidurkan sang anak menggunakan kain panjang yang digantung di atap-atap langit rumah, diiringi dengan nyanyian rakyat (folklore) yaitu nelengnengkung.
Menurut Permatasari & Inten (2020) mengemukakan bahwa folklore ini adaah sifat dari hariring atau ngahariring tara tarik, artinya ‘dibawakan secara halus’. Pemakaian kata dalam lagu lebih menonjol, cenderung bernyanyi untuk diri sendiri, pengisi jiwa (berupa nasihat), cenderung improvisasi terutama ketika sedang gembira. Hariring indung biasanya dilakukan para ibu sambil menidurkan anak (harewos indung memeh sare). Namun, tidak hanya saat akan menidurkan anak, hariring indung dilakukan juga saat anak bermain, saat anak sakit, dan sesekali di waktu mandi. Hariring indung berisikan harapan seorang ibu terhadap anaknya, berupa doa-doa dan nasihat-nasihat (mepeling).
Menurut Rachmani (dalam Permatasari & Inten 2020) lagu yang cocok dengan anak usia dini untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua, sebaiknya sebagai berikut (1) lagu harus relevan, penuh makna, dan menarik anak-anak; (2) lagu mengandung cerita singkat yang sesuai dengan dunia anak-anak; (3) melodi lagu haruslah singkat dan mudah diingat anakanak; (4) lagu sebaiknya berisi informasi apa yang perlu dipelajari anak di masa yang akan datang; (5) lagu sebaiknya mengulang informasi dan keterampilan praktis yang dapat dilakukan anak-anak; dan (6) lagu sebaiknya dapat diapresiasi anak-anak sesuai umurnya. Lagu akan menstimulus anak untuk merespons secara verbal, seperti gumaman atau senandung yang terpatah-patah karena belum bisa mengartikulasikan suatu kata dengan baik. Selain secara verbal, anak juga biasa merespons sebuah lagu dengan nonverbal, seperti senyuman atau gerakan tangan.
Menurut Nurullah (2009) menjelaskan bahwa teks lagu Nelengnengkung terdiri atas 4 bait yang memiliki 4 larik di dalamnya. Setiap larik memiliki 8 suku kata. Rima dalam lagu Nelengnengkung memunculkan efek suasana tertentu. Rima dalam lagu Nelengnengkung menciptakan efek suasana damai. Asonansi dominan dalam lagu Nelengnengkung adalah vokal /a/, /e/, /ə/, /e/ atau /ε/, /i/. Vokal /a/ menghasilkan bunyi rendah yang ringan dan menimbulkan efek suasana riang. Vokal /ε/ dan /i/ menghasilkan bunyi nyaring yang menimbulkan efek suasana riang. Hal ini menunjukkan bahwa Nelengnengkung adalah lagu yang ceria dan cocok untuk dipakai sebagai lagu pengantar tidur. Vokal /e/ dan /ə/ menghasilkan bunyi berat yang menimbulkan efek suasana serius dan khidmat. Suasana serius dan khidmat dalam lagu ini hadir karena banyak terdapat doa dan harapan Lagu Nelengnengkung memiliki didominasi oleh nada pendek dan sedang serta tempo penuturan yang lebih cepat dibandingkan lagu Ayun Ambing. Pada akhir larik terjadi peninggian nada yang menciptakan efek suasana riang dan lagu tentang doa ibu untuk anaknya agar selamat dunia dan akhirat.
Konteks penuturan lagu-lagu kelonan ini dituturkan saat akan menidurkan anak. Agar cepat terlelap, pengasuh/ibu biasanya mendendangkan sebuah lagu pengantar tidur. Waktu penuturan lagu-lagu ini adalah waktu anak tertidur. Selain saat dituturkan, terjadi interaksi langsung antara penutur dan pendengar. Lagu-lagu kelonan ini biasanya didendangkan penutur sambil menggendong anak yang sedang ditidurkan. Lagu-lagu kelonan ini diciptakan dengan fungsi utama yaitu lagu yang berfungsi untuk membuai anak hingga tertidur. Akan tetapi lagu-lagu ini memiliki fungsi lainnya yaitu rekreatif (Nurullah, 2009)..
Bunyi atau suara yang sangat disukai oleh sang bayi adalah suara ibunya (Otto, 2015). Lagu Nelengnengkung memiliki fungsi rekreasi karena saat lagu didendangkan, baik penutur (pengasuh/ibu) dan anak merasa terhibur. Lagu Nelengnengkung berisi harapan-harapan penutur untuk sang anak. Diiringi nada-nada menyenangkan, harapan ini disampaikan dan menjadi sarana pembangkit semangat sang anak. Melalui lagu ini, harapan menjadi semangat baru untuk penutur (pengasuh) dan petutur (anak) untuk menjalani hari. Lagu Nelengnengkung sebagai sistem proyeksi (protective system), yakni sebagai alat pencermin angan-angan suatu kolektif bahwa fungsi ini tergambar dari teks yang dituturkan serta konteks penuturan teks. Lagu Nelengnengkung berisi harapan bahwa tercermin pada lirik mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Lagu Nelengnengkung sebagai alat pendidikan anak (pedagogical device) bahwa anak diajarkan untuk berbakti dan berbuat baik kepada orang tuanya (terutama ibu). Salah satu bakti anak kepada orang tua yang tergambar dalam teks lagu Nelengnengkung adalah dengan menuntut ilmu yang tinggi sehingga dapat mengangkat harkat dan derajat orang tua. Pendidikan budi pekerti ini menjadi pendidikan dasar yang tergambar dalam lagu Nelengnengkung.
Lirik Lagu Nelengnengkung (Cipt: N.N)
Néléngnéngkung
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola ka Bandung
Geura makayakeun indung
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
Geura bisa talang tulung
Ka bapa reujeung ka indung
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
Geura sakola sing jucung
Manggih kapusing tong bingung
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Geura gede geura jangkung
Nagara kudu dijungjung
Dihormat dipunjung-punjung
Nilingningnang-nilingningnang
Ulah waka senang-senang
Diajar ulah kapalang
Kabéh sualan sing beunang
Ku indung dipunjung-punjung
Ku bapa didama-dama
Reup deungdeung talaga tisuk
Reup sakeudeung nepi ka isuk
Terjemahan
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Cepat besar cepat tinggi
Agar dapat bersekolah di Bandung
Agar dapat berterimakasih kepada ibu
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Cepat besar cepat tinggi
Agar cepat dapat menolong
Kepada bapak dan ibu
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Cepat besar cepat tinggi
Cepat sekolah hingga selesai
Mendapat masalah jangan bingung
Néléngnéngkung- néléngnéngkung
Cepat besar cepat tinggi
Negara harus dijunjung
Dihormati dan dijunjung
Nilingningnang-nilingningnang
Jangan mendahulukan untuk bersenang-senang
Belajar jangan putus di tengah jalan
Agar semua ilmu dapat diraih
Ibu yang menjunjung
Bapak yang menjaga
Reupdeungdeung talaga tisuk
Tertidur hingga pagi hari
Referensi:
- Nurullah, M. F. (2009). Lagu Kelonan Pada Masyarakat Ciamis: Analisis Struktur, Proses Penciptaan, Konteks Penuturan, Dan Fungsi. Skripsi: Fakultas FPBS Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. [Online]. Tersedia: http://repository.upi.edu/skripsiview.php?no_skripsi=896
- Otto, B. (2015). Perkembangan Bahasa pada Anak Usia Dini. Kencana
- Permatasari, A. N., & Inten, D. N. (2020). Hariring Indung Sebagai Media Komunikasi Ibu dan Anak Usia Dini. Jurnal Komunikasi, 12(2), 231-245. [Online]. Tersedia: http://journal.untar.ac.id/index.php/komunikasi/article/view/8642
- Suwirta, A. (2009). The History of Education in West Java, Indonesia: From Traditional Era toward Modern Era. EDUCARE, 1(2). [Online]. Tersedia: https://www.journals.mindamas.com/index.php/educare/article/view/197
- Tradisi Mepende dan Nilai-nilai Pendidikan Agama: Studi Kasus di Masyarakat Ujungberung–Kota Bandung. In Proceeding of Seminar International Literature Nusantara (Vol. 2, No. 1, pp. 159-178). [Online]. Tersedia: http://www.jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/silin/article/view/4211
