Site icon Etnoparenting Indonesia

Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Masyarakat Jawa

Ilustrasi (Foto oleh Stijn Dijkstra di Pexels)

Visi dari Etnoparenting ini mengacu kepada Sangkan Paraning Dumadi, Mamayu Hayuning Bawana, Manunggaling Kawula Gusti. 

Sangkan Paraning Dumadi Yang artinya hana hurip wening suci adanya hidup adalah kehendak yang Maha Suci. semua yang terjadi di bumi ini hanyalah karena Gusti Allah menghendakinya terciptanya Manusia dan bintang-bintang, tata surya alam semesta. Cipta wening cipta mandulu, cipta dadi.  Satu arah tujuan terhadap Tuhan yang Maha Tunggal. Rasaingsun handulusih rasa cinta sejati akan muncul dari kasih cinta nurani.

Mamayu Hayuning Bawana artinya hasrat yang diarahkan kepada kesejahteraan alam. Alam-alam yang dimaksud tidak selalu alam yang berbentuk fisik. Bisa juga diartikan sebagai alam batin, gaib dan alam-alam lainnya.

Dumadining dzat kang tanpa winangenan – yang berarti menerima hidup apa adanya  tatas, tutus, titis, titilan wibawa – mendasar, totalitas satu visi, ketelitian dalam memandang hidup.

Sifat ingsun handulu sifatullah – membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan.

Wujud hana tan kena kinira – Ilmu manusia hanya terbatas namun implikasi nya bisa tanpa batas.

Manunggaling Kawula Gusti sedangkan ini artinya adalah melebur bersama kehendak Tuhan. Mematikan segala keinginan diri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Menggunakan mata,telinga,pikiran sesuai dengan yang Gusti Allah kehendaki.

Jubuhing kawula lan Gusti – selalu berusaha menyatu – memahami kehendak-Nya

Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi – yakin atas titah / kodrat Illahi.

Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki – memahami kodrat kehidupan.

Madep mantep menembah mring Ilahi – yakin – mantap dalam menyembah Ilahi.

Guru sejati sing muruki – belajar pada Guru nurani.

Bayu sejati kang andalani – menyelaraskan diri pada gerak alam.

Tukul saka niat – sesuatu harus dimulai – tumbuh dari niatan.

Ngacrut busananing manungso – melepaskan egoisme pribadi

Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu

Kita akan belajar dari sebuah kisah wayang Begawan Wisrawan dan Dewi Sukesih yang memulai setiap tahapan dalam kehidupan mereka. Berikut kutipan kata-kata Begawan Wisrawa terhadap Dewi Sukesih: 

“Tak cukup ku katakan dengan kata-kata Sastra Jendra itu bukan kata-kata, Ia adalah kehidupan. Anakku Kehidupan dalam hati yang tidak mempunyai wadah di dunia ini. Tenangkan hatimu seperti embun pagi yang belum terganggu matahari jangan kau menjerit kepada sisapapun, sebab di sekitarmu tak ada siapapun, tidak ada apapun, jangankan manusia, dewa-dewa pun sudah tiada. Mereka sudah mati, Anakku, hanya dalam ketiadaan dan kematiannya itulah mereka berada di dalam kehidupan sejati , seperti kau, Anakku, ketika kau mulai memahami Sastra Jendra ini.”

Tahapan refleksi diri Bersesuaian dengan pemahaman sastra yang kita ambil dari kisah pawayangan anak-anak dari Begawan Wisrawan dan Dewi Sukesih yang mencerminkan kehidupan pertaubatan kita. Hal ini erat kaitanya dengan tradisi Ruwat yang di lakukan oleh masyarakt Jawa salah satunya untuk mentransformasi jiwa kita dari Rahwana seseorang yang mempunyai banyak keburukan dengan hawa nafsu yang menggebu menjadi Gunawan Wibisana seorang manusia sejati yang sempurna yang baik dan bijaksana.

Usia manusia yang baru muncul keinginan untuk bertaubat rata-rata berada di atas dua puluh lima tahunan. Pada masyarakat jawa ada istilah perayaan Windu yang berarti delapan tahun. setiap delapan tahun sekali tradisi ini dilakukan untuk menandai tahapan seorang anak dengan harapan menjadi manusia sejati. 

delapan tahun pertama yang disebut Adi (Utama) artinya permulaan seorang anak untuk mengetahui dunia, delapan tahun kedua yang disebut istilah Kunthara (kelakuan) di fase kedua ini sang anak sudah berusia enam belas tahun atau sudah masuk ke dalam kategori remaja yang dimana pada usia tersebut mereka banyak sekali melakukan kesalahan , sedangkan delapan tahun ketiga disebut Sengara ( Banjir) di usia ini seorang anak akan mengalami fase banyaknya ujian yang ditimpakan kepadanya sehingga terjadi pergolakan batin yang akhirnya membawa Ia ke dalam perenungan untuk ‘kembali’, delapan tahun keempat yang disebut sebagai Sancaya yaitu kekosongan dimana sang anak menginjak usia ke tiga puluh dua. saat-saat ini manusia telah berusaha untuk bertaubat kepada Tuhan nya mengosongkan diri dari segala keburukan. Di dalam usia tiga puluh dua ini manusia sudah mulai belajar untuk membaca kehendak Tuhan dan untuk apa Ia diciptakan ke dunia. 

Selanjutnya ketika menginjak usia empat puluh tahun manusia telah matang secara fisik dan spiritual. Seharusnya pada usia ini seseorang sudah bisa mengetahui apa visi dan misi hidupnya dan mengerti mengapa Ia diciptakan di muka bumi.

Masyarakat Jawa melakukan semua tradisi dengan tujuan menghadirkan rasa yang benar. Berbagai simbol yang telah dituliskan di sana tidak terlepas dari menggabungkan beberapa tindakan yang dilakukan secara fisik dan spiritual menjadi sebuah kesatuan. Kita ambil contoh saja seperti upacara Ruwatan yang dilakukan adalah simbol dari pembersihan jasad dan penyucian jiwa, ruwatan bisa disebut pertaubatan seorang manusia agar kembali bersih setelah melakukan dosa. Manusia pada dasarnya sulit sekali menjauhkan dirinya dari dosa tradisi ruwatan tersebut bertujuan agar bersih dari keburukan-keburukan orang tua yang tidak akan sampai mendera anaknya.***

Disarikan dari paparan Yeni Wulan K, A.Ks., praktisi parenting Jawa, dalam Webinar Tradisi Pengasuhan Anak di Suku Jawa pada Selasa, 25 Agustus 2020.

Exit mobile version