Setiap suku mempunyai budaya melantunkan senandung kepada anak mereka menjelang tidur. Tradisi menina bobo kan anak-anak di percaya untuk membangun hubungan emosi antara anak dan orang tua. Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya bermakna indah, atau berisi nasihat, atau pepatah.

Berikut akan saya perkenalkan kepada sahabat sekalian budaya mana saja yang menerapkan tradisi nyanyian.
Putri Cening Ayu (Bali)
Lagu ‘Putri Cening Ayu’ merupakan lagu wajib daerah yang berasal dari Provinsi Bali. Lagu
ini merupakan lagu interaksi antara Ibu dan anak yang menceritakan tentang percakapan Ibu
kepada anaknya. Lagu ini menceritakan seorang Ibu yang akan pergi ke pasar untuk
membelikan makanan untuk anaknya, dan sang Ibu meminta anaknya untuk menunggu di
rumah sampai Ibunya kembali. Berikut lirik lagu ‘Putri Cening Ayu’ beserta artinya:
Liriknya berbunyi :
Putri cening ayu ngijeng cening jumah
Anakku putri yang cantik tunggulah di rumah
Meme luas malu kapeken meblanja
Ibu pergi dulu ke pasar untuk berbelanja
Apang ada darang nasi
Agar ada lauk nasi
Meme titiang ngiring nongos ngijeng jumah
Ibu saya mau diam tinggal di rumah
Sambilan mangempu ajak titian dadua
Sambal berkumpul bersama saya berdua
Ditekane nyen gapgapin
Datang beri oleh-oleh
Saksikan tayangan lagu “Putri Cening Ayu” di Official Youtube Etnoparenting: https://www.youtube.com/watch?v=v-yRkodL3lk
Lagu ‘Putri Cening Ayu’ memiliki pesan bahwa anak tidak boleh durhaka kepada orang tua
karena orang tua lah yang melahirkan, membesarkan, serta mendidik anak. Maka, sudah
sepantasnya seorang anak untuk nurut serta membantu orang tua. Di bait pertama lagu ‘Putri
Cening Ayu’ menampakkan dialog seorang Ibu yang meminta anaknya untuk tinggal di rumah,
sementara ibu pergi ke pasar untuk membeli makanan untuk anaknya. Lalu pada bait kedua,
menampakkan dialog sang anak yang setuju dan mengiyakan permintaan Ibu untuk tinggal di
rumah sampai sang Ibu kembali, asalkan sang Ibu membawakan oleh-oleh untuknya sepulang
dari pasar.
Di dalam lagu tersebut terdapat pembentukan karakter yang dilakukan oleh seorang Ibu
kepada anaknya, dimana anak diajarkan oleh orang tuanya untuk mengikuti dan mematuhi
nasehat yang diberikan dan tidak boleh membantah apalagi mengingkari nasihat/perintah dari
orang tua. Anak juga diberi tanggungjawab oleh Ibunya agar anak dapat menyiapkan segala
sesuatu selagi sang Ibu keluar untuk mencari makanan, hal tersebut dapat diartikan sebagai
seorang Ibu memberi tanggungjawab kepada anak selagi Ibu mecari rezeki untunk
menyambung hidup keluarganya. Di dalam lagu ‘Putri Cening Ayu’ juga terdapat makna
bahwa apabila anak bersikap baik dan mematuhi segala perintah dan nasihat dari orang tua,
maka anak akan mendapat pahala dan akan disenangi oleh orang-orang yang ada di sekitar
anak. (Saputra, 2017).
Lagu ‘Putri Cening Ayu’ bisa dibilang menjadi alat/media pengasuhan anak yang digunakan
oleh masyarakat Bali untuk mengajarkan tanggungjawab, kepatuhan, serta ketaatan terhadap
perintah dan nasihat dari orang tua. Hal tersebut menunjukkan bahwa melalui lagu tersebut,
para orang tua berharap dapat membentuk karakter dalam diri anak khususnya rasa
tanggungjawab, kepatuhan terhadap peraturan, dan ketaatan terhadap perintah dan nasihat dari
orang tua.
Ayun Ambing (Jawa Barat)
Terdapat banyak cara pengantar tidur dari berbagai daerah salah satunya Mepende yang berasal dari Jawa Barat. Menurut Yani (2020) Mepende merupakan Tradisi menidurkan anak menggunakan kain panjang yang digantung di atap – atap langit rumah, diiringi dengan nyanyian rakyat berjudul ayun ambing. Mepende sendiri biasanya digunakan paraorang tua saat anaknya bayi hingga sekitar umur 3 tahun sebab, jika lebih dari 3 tahun tubuh anak sudah mulai besar dan kain panjang yang digunakan sudah tidak cukup lagi.
Ayun ambing merupakan budaya yang disebarkan melalui lisan menjadikannya
terdapat beberapa versi namun tetap bermakna. Adapun beberapa versi ayun ambing
adalah sebagai berikut:
Versi Mang Koko
Ayun ambing, ayun kusamping
Bobo sing tibra, ulah rungsing
Utun dijaring, ayun ambing
Bobo diaping, beurang-peuting
Bobo anaking, ayun ambing
Kulem sing tibra, masing jeumpling
Versi Teteh Heni Hanifah
Yun ambing, di ayun ayun ku samping
Nelengnengkung nelengnengkung
Geura gede geura jangkung
Sakola a sing junun
Makayakeun indung
Nelengnengkung nelengnengkung
Geura gede geura jangkung
Sakola ka Bandung
Mupunjung keun indung
Daweung menak diajar ludeung
Ulah sok munjung ka gunung
Ulah muja ka sagara
Gunung mah sok rajeun rugrug
Sagara sok rajeuh caah
Munjung mah kudu ka Indung
Muja mah kudu ka Bapak
Indungmah tunggul Rahayu
Bapak mah tangkal darajat
Sangkan hidup bagja di dunya jeung di akherat
Saksikan tayangan lagu “Ayun Ambing” di Official Youtube Etnoparenting: https://www.youtube.com/watch?v=0X6RIWeBfOA
Makna yang terdapat dari lirik ayun ambing beberapa versi diatas secara garis
besar adalah nasihat – nasihat dari orang tua untuk anak seperti anjuran untuk selalu
memuliakan orag tua, belajar dengan giat bahkan, untuk versi Darso memiliki makna
untuk selalu tabah dan sabar dalam menahan rasa rindu menunggu kedatangan ibu yang
sedang bekerja di luar negeri. Makna yang tersirat dari lirik ayun ambing jika
dilantunkan secara signifikan maka akan menjadi doktrin positif bagi anak. Selain itu,
dekapan dan sentuhan orang tua pada saat menidurkan anak pun akan memberikan rasa
aman dan nyaman serta menumbuhkan chemistry yang dimana hal ini sangat
dibutuhkan bagi setiap anak. Sebab, melantunkan ayun ambing pada praktiknya diiringi
dengan elusan tangan, kecup kening atau meniup ubun – ubun bayi (Wakih & Sidik:
2020).
Lir Ilir (Jawa tengah)
Lagu lir ilir lebih dikenal sebagai tembang dolanan atau lagu daerah yang berasal dari
Jawa Tengah. Lagu ini sangat dikenal oleh masyarakat Jawa dan biasanya sering dinyanyikan
ibu-ibu saat mengasuh anak-anaknya. Lagu atau tembang ini diciptakan oleh Raden Syahid
yang lebih dikenal Sunan Kalijaga pada pertengahan masa Hindu-Budha di Jawa. Sunan
Kalijaga merupakan salah satu tokoh Walisongo yang dikenal mampu memasukan pengaruh
islam ke dalam tradisi dan budaya di Jawa. Salah satunya menggunakan tembang dolanan Jawa
sebagai media berdakwah dalam menyebarkan agama islam dan tembang lir-ilir ini merupakan
salah satu karya yang paling dikenal masyarakat Jawa.
Adapun lirik tembang Lir-Ilir sebagai berikut:
Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surako Surak iyo
Saksikan tayangan lagu “Lir Ilir” di Official Youtube Etnoparenting: https://www.youtube.com/watch?v=pmvROE_gKlA
Runtuhnya kerajaan Majapahit saat itu membuat kondisi perilaku dan moral masyarakat buruk. Seolah ajaran agama yang sebelumnya telah tumbuh baik kemudian kehilangan nilainya di masyarakat. Sunan Kalijaga melalui tembang lir ilir ini mencoba mengajak masyarakat untuk memperbaiki perilaku dan moral sesuai syariat islam kembali, tanpa melawan tradisi yang sudah ada di masyarakat. Hingga pada akhirnya banyak Adipati yang berhasil memeluk islam dan kemudian meluas diikuti rakyatnya.
Sunan Kalijaga menjadikan tembang ini sebagai media dakwah dengan menyelipkan
nilai-nilai islam dan filosofi kehidupan yang memiliki makna menasihati umat islam bahwa
sebagai muslim harus bangkit atau menyadari adanya Allah dan bangkit dari keterpurukan dan
sifat malas, kemudian menjadi pribadi yang lebih baik. Tiap-tiap lirik tembang Lir-ilir ini memiliki makna tersirat yang perlu didalami agar dapat memahami isinya. Teks pada tembang ini terbuka dan bisa bermakna bagi siapa saja. Seperti pada bait lirik “lir-ilir lir-ilir” yang berarti bangun-bangun. Bangun atau sadar untukorang-orang agar kembali pemikiran yang benar.
Kemudian “Tandure wis sumilir” yang artinya tanaman sudah mulai bersemi. Maka dapat diartikan bangunlah dari sifat bermalasan-malasan agar menjadi pribadi yang lebih baik. “tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar” artinya demikian menghijau bagaikan pengantin baru. Iman itu diibaratkan tanaman hijau subur yang dirawat dengan baik, orang yang merawat imannya dengan baik akan menghasilkan pribadi yang baik, menyejukkan dan membawa kebahagiaan seperti pengantin baru.
Berikutnya, “Cah angon-cah angon” artinya anak gembala. Maksudnya orang yang mampu membimbing atau membawa pengikutnya ke jalan yang benar. Setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Jadi, bagaimana orang itu mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri. “panekno blimbing kuwi” artinya panjatlah pohon belimbing itu. Digambarkan buah belimbing yang memiliki 5 sisi, bahwa banyak hal penting yang berjumlah lima, seperti rukun islam. “Lunyu-lunyu yo penekno, kanggo mbasuh dodotiro” artinya biarpun licin dan susah tetaplah panjat untuk membasuh pakaianmu. Yang maknanya meskipun susah keutamaan-keutamaan tersebut (rukun islam) harus tetap dilaksanakan untuk membasuh atau membersihkan diri kita. “Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir, Dondomono jlumatono kanggo sebo mengko sore” artinya pakaianmu yang terkoyak di bagian pinggir, jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore. Maksudnya menggambarkan bahwa diri kita ini sedang rusak, tidak utuh karena nafsu. Maka, jahitlah (perbaikilah) agar bagus kembali agar tidak malu saat bertemu Tuhan nanti. “Mumpung padhang rembulane, Mumpung jembar kalangane” artinya selagi bulan purnama, selagi banyak waktu luang. Maknanya ialah perbaikilah diri kita selagi masih jelas yang benar dan salah dan selagi masih ada kesempatan. Terakhir “Yo surak o yo surak iyo” artinya ayo besoraklah dengan sorakan iya. Maksudnya ialah karena sudah diberitahu maka jawablah dengan iya. Kalau ada perintah yang
baik maka iyakan lalu jalani. Banyak orangtua yang menyanyikan lagu ini untuk anaknya dengan harapan anak dapat menjadi anak yang selalu ingat Tuhan dan terus memperbaiki diri.
Oleh : Mira Sitti Nur Hafsyah & Ridha Aidah Azzahra
Editor: Rida Maulidya