Site icon Etnoparenting Indonesia

Tak Lelo, Lelo, Lelo Ledung, Gending Pengantar Tidur Masyarakat Jawa

grayscale photo of a baby holding a persons finger

Photo by Dobromir Dobrev on Pexels.com

Masyarakat Jawa kuno memiliki nyanyian khusus untuk menidurkan anak. Arieyoko, pegiat seni dan mantan wartawan, menyebutkan bahwa lagu pengantar tidur untuk anak balita biasanya berupa tembang. Tembang sendiri dapat bermakna syair, gubahan, kidung, atau nyanyian.

Sebelum dinamakan tembang, sastra lisan di Jawa disebut Macapat, yaitu sastra Jawa kuno. Macapat merupakan salah satu warisan budaya Jawa yang sangat terkenal. Macapat berbentuk puisi tradisional dalam bahasa Jawa yang disusun menggunakan aturan tertentu dan biasanya terdiri dari empat larik. Macapat menceritakan manusia mulai dari janin hingga kematian.

Pada masa lalu, Macapat disenandungkan tanpa menggunakan iringan apa pun. Pembacaan macapat lebih diutamakan pada makna yang terkandung di dalam syairnya. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak macapat yang dinyanyikan dengan menggunakan nada tertentu dengan diiringi alat musik tradisional, seperti gamelan. Berikut salah satu contoh lirik macapat yang biasa disenandungkan oleh orang tua untuk menidurkan anaknya.

Tak lelo, lelo, lelo ledung
(mari ku timang-timang anakku sayang)
Cep menenga aja pijer nangis,
(Cup, diamlah jangan menangis terus)
anakku sing ayu/bagus rupane
anakku yang cantik/ganteng rupawan)
Yen nangis ndak ilang ayune/baguse,
(kalau menangis terus nanti hilang cantik/gantengnya)
dak gadhang bisa urip mulya
(kuharap kelak bisa memiliki kehidupan yang baik)
Dadiya Wanita/priya kang utama,
(jadilah orang yang memiliki keutamaan)
ngluhurke asmane wong tuwa
(mengharumkan nama orang tua)
Dadiya pendekaring bangsa
(jadilah pahlawan bangsa)

Wes cep menenga anakku,
(sudahlah diam jangan menangis anakku,)
kae mbulane ndadari
(lihatlah bulan purnama sedang bersinar terang)
Kaya buta nggegilani,
(seperti kepala raksasa yang menakutkan)
lagi nggoleki cah nangis
(sedang mencari anak yang menangis)

Tak lelo, lelo, leo ledung
(mari ku timang-timang anakku sayang)
Cep menenga cah ayu/bagus
(Diamlah anakku yang rupawan)
Dak emban slendang bathik kawung
(ku gendong dengan selendang bathik kawung)
Yen nangis mundhak Ibu bingung
(kalau menangis nanti Ibu bingung)

“Tak lelo, lelo, lelo ledung” dapat diartikan sebagai “Mari kutimang-timang engkau anakku”. Arieyoko menceritakan bahwa lagu Tak lelo, lelo, lelo ledung merupakan harapan Ibu yang menginginkan anaknya untuk tidak menangis dan segera tidur. Selain mencoba untuk menenangkan anak, ibu juga menuturkan pengharapan bahwa anak akan bersahaja, menjadi manusia yang sejati, mengharumkan nama keluarga, dan berguna bagi nusa bangsa ketika dewasa kelak.

Pernyataan di atas sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu yang mengungkapkan makna di balik tembang Tak lelo, lelo, lelo ledung. Bagi masyarakat Jawa zaman dulu, orang tua biasa mengekspresikan doa dan harapan untuk anak agar menjadi manusia yang memiliki pribadi yang baik dengan menggunakan alunan nada hingga membuat anak terlelap dalam tidur saat ditimang (Supanggih et al., 2017). Senada dengan hal tersebut, tembang Tak lelo, lelo, lelo ledung mengandung makna doa dan harapan orang tua terhadap anak-anak mereka (Arum, 2020).

Menelaah setiap lirik dari tembang Tak lelo, lelo, lelo ledung, ibu yang sedang melantunkan tembang ini terlihat begitu menyayangi anak yang sedang dia timang dalam gendongannya. Kata “tak” dalam Bahasa Jawa merupakan imbuhan yang menyatakan pelaku Tindakan “aku/ku”. Sebagai contoh, “tak ambil” bermakna “aku ambil”. Kemudian dalam kamus Indonesia-Jawa (Mardiwarsito et al., 1992), kata “lelo” berarti “ubahe tangan kang endah” (menggerakkan tangan yang indah). Kata ini disandingkan dengan kata “menimang”, yang bermakna menaruh anak di tangan kemudian diayunkan sembari dilantunkan sebuah tembang. Selanjutnya kata “ledung/dung” dalam Bahasa Jawa, ditempatkan sebagai “gong”-nya musik, biasa digunakan untuk mengakhiri bunyi musik, “dhung”.

Berdasarkan makna di setiap kata dalam judul, jelas terlihat bahwa tembang Tak lelo, lelo, lelo ledung dinyanyikan oleh seorang ibu yang sedang menimang-nimang anaknya dalam gendongan. Hal ini menggambarkan bahwa seorang Ibu dengan penuh kasih menginginkan anaknya untuk tenang dalam gendongan ibu, juga membuat anak merasa aman dan tenang bersamanya.

Dalam lirik tembang tersebut, terdapat frase “slendang bathik kawung”. Bathik kawung memiliki sejarah yang cukup panjang dalam kebudayaan Jawa. Namun, secara singkat, kata kawung dapat dihubungkan dengan nama salah satu binatang, yaitu “kwangwung”, yaitu sejenis serangga yang berwarna cokelat mengkilap (Hartanti & Setiawan, 2019). Serangga tersebut mengkilap dan terlihat begitu indah.

Selain itu, kata “kawung” juga berarti pohon aren, yaitu kolang-kaling. Koentjaraningrat yang dirangkum oleh Hartanti & Setiawan (2019) mengatakan bahwa kolang-kaling berwarna putih dan tersembunyi di balik kulitnya yang keras. Menurut masyarakat Jawa, ungkapan ini mengandung makna bahwa kebaikan hati seseorang tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Selain buahnya, seluruh bagian dari pohon aren sangat berguna bagi manusia. Hal ini menandakan bahwa manusia dapat berguna bagi masyarakat, bangsa, maupun negara. Hal ini sesuai dengan salah satu lirik “dadiya pendekaring bangsa” (jadilah pahlawan bangsa). Maka, secara keseluruhan, penggunaan bathik kawung dalam menimang-nimang anak memiliki arti yang cukup dalam, yaitu sebuah harapan manusia agar penerusnya menjadi pribadi yang baik alam segala tindakannya.

Secara keseluruhan, tembang Tak lelo, lelo, lelo ledung memiliki makna yang mendalam dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Jawa yang mengenalkan tembang ini. Meskipun sampai sekarang belum ada informasi dan referensi terkait pengarang asli tembang ini, tetapi kita dapat mengamatinya dari segi bahasa. Tembang ini menggunakan Bahasa jawa krama alus dan kuno.

REFERENSI

Selain literatur di atas, Sebagian informasi ini juga hasil wawancara dengan Bapak Arieyoko (AR), dengan pandangan masyarakat Jawa Timur. Berikut profil Bapak Arieyoko:

Lahir di Desa Kadipaten, Bojonegoro 1955. Kuliah di Yogyakarta dan bergulat dalam sastra dan teater bersama-sama seniman 1976. Menggelar “parade penyair yogya 3 Generasi” di gedung seni Sono tiga hari tiga malam (1981), yang menggegerkan jagad sastra Indonesia. Cerpen, puisi, dan esainya bertebaran di banyak media. Pulang ke Bojonegoro menjadi guru PMP dan kesenian, lalu jadi loper Koran, lalu jadi jurnalis di banyak media, juga menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) eks Karesidenan Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan 1987-1990, terakhir pension sebagai wartawan harian Republika, Jakarta. Tahun 1982 mendirikan kelompok seniman muda Bojonegoro (KSMB), yang lantas vakum, yang lantas hidup, yang lantas digerakkan kembali (2009) bersama sahabat-sahabatnya yang masih bersemangat. Kini tinggal di Jl. Anggrek 21 Wisma Indah Timur Bojonegoro, Jatim. Email: arieyoko2005@yahoo.com.

Exit mobile version