Site icon Etnoparenting Indonesia

Kakawihan Sunda: Ayun Ambing

Masyarakat Sunda memiliki kebudayaan lisan yang telah diwariskan secara turun temurun yakni kakawihan. Dalam kamus Bahasa Sunda, kawih memiliki arti sora jelema anu euweuh pupuhna, taya patokanana (suara orang yang tanpa patokan atau tanpa terikat dengan aturan pupuh). Sementara, kakawihan memiliki makna nyorakeun rupa-rupa kawih (menyanyikan kawih) (Danadibrata, 2009). Orang tua biasanya mulai mengenalkan kakawihan pada anak ketika mereka sedang mengasuh anak, atau juga didendangkan dalam beberapa permainan tradisional Sunda. Dengan mendendangkan kakawihan, anak dapat merasa senang sekaligus sebagai media pengingat bagi anak kelak ketika sudah dewasa, ia dapat mengingat kakawihan yang biasa didendangkan oleh orang tua (Wakih & Sidik, 2020).

Foto: @DediMulyadi71

Kakawihan juga digunakan dalam tradisi menidurkan anak atau biasa disebut mepepende. Mepepende merupakan tradisi mengayunkan anak dalam kain panjang yang digantung di atap langit rumah dengan tujuan agar anak segera terlelap dalam tidur (Yani, 2020). Orang tua biasanya menggunakan tradisi Mepepende untuk anak yang masih bayi hingga usia sekitar 3 tahun. Tradisi ini biasa diiringi dengan kakawihan pengantar tidur seperti Ayun Ambing. Namun, Ayun Ambing bukan satu-satunya lagu pengantar tidur bagi anak di Sunda, ada beberapa jenis kakawihan pengantar tidur yang lain seperti Nelengnengkung, Dug Geura Bobo, Dengkleung, dan Jampe-jampe Harupat (Wakih & Sidik, 2020).
Artikel ini khusus membahas kakawihan pengantar tidur masyarakat Sunda yang paling populer yaitu Ayun Ambing. Kakawihan ini bukan hanya sekedar lagu biasa, namun syarat akan makna yang terkandung dalam setiap lirik. Ayun ambing menceritakan tentang seorang Ibu yang sedang mengais (mengayun) anaknya sambil ngahariring (bernyanyi) kakawihan Ayun Ambing (Lerina et al., 2015). Menimang anak sambil ngahariring (bernyanyi) kakawihan Ayun Ambing biasa dilakukan oleh Bapak, Ibu, atau kaka dengan menidurkan anak dalam pangkuan menggunakan aisan atau lengan sebagai penyanggah (Wakih & Sidik, 2020). Ibu atau Ayah dengan lembut melantunkan kakawihan Ayun Ambing hingga membuat anak terlelap dalam tidur (Opik et al., 2019). Dari sini kita dapat lihat usaha atau perjuangan orang tua untuk membuat anak terlelap dalam tidur. Mereka dengan sabar mengayun anaknya sambil melantunkan kakawihan Ayun Ambing. Ini merupakan salah satu bentuk kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Dari beberapa penelitian terdahulu, kita dapat menemukan lirik yang berbeda-beda tentang kakawihan Ayun Ambing. Hal ini dikarenakan masyakat Sunda telah tersebar ke beberapa wilayah, sehingga kemungkinan Bahasa atau liriknya disesuaikan dengan kebudayaan di wilayah tersebut. Seperti dalam penelitian Yani (2020) yang memberikan dua contoh lirik yang berbeda yang berasal dari informan yang berbeda pula. Menurutnya, perbedaan lirik tersebut dikarenakan faktor usia dan daya ingat dari kedua informan yang berbeda. Maka tidak mengherankan apabila terdapat banyak versi tentang kakawihan Ayun Ambing.
Berikut adalah salah satu lirik kakawihan Ayun Ambing yang secara umum digunakan oleh masyarakat Sunda:
Ayun Ambing
Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping

Hidep hidep omat
Hidep omat ulah rungsing
Hidep hidep omat
Hidep omat ulah rungsing

Apan Bapa
Apan Bapa anu ngaping
Apan Bapa
Apan Bapa anu ngaping

Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping

Nyalindung ka pasir batu
Nu loba kacilametan
Nyalindung ka pasir batu
Nu loba kacilametan

Indung sasaurna metu
Bapa saucapna nyata
Indung sasaurna metu
Bapa saucapna nyata

Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Ari… ari ayun ari ayun ayun ambing
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping
Diayun ayun mah diayun ayun ku samping
Sumber: http://liriklokal.blogspot.com/2017/11/lirik-lagu-sunda-ayun-ambing.html

Kakawihan Ayun Ambing lebih dari sekedar menginginkan anak untuk tidur, tetapi terdapat nilai filosofis tentang keterkaitan antara Ibu dan anak. Makna pertama yang tersirat dalam kakawihan Ayun Ambing adalah bentuk kasih sayang. Mengayun atau menimang anak sambil diiringi kakawihan Ayun Ambing menciptakan deep chemistry of affection antara anak yang diayun dan orang mengayun (Wakih & Sidik, 2020). Senada dengan hal tersebut, sebuah Novel dalam Buku Basa Sunda karya Amilia (2017) juga menyiratkan sebuah kalimat tentang bentuk kasih sayang dalam tradisi ini, “pagawean indung nu pang ni’mat-ni’matna, nitah sare bari pinuh direumbeuy ku kecap asih jeung deudeuh” (pekerjaan ternikmat seorang Ibu adalah menyuruh anaknya tidur seraya menghujani sang anak dengan kata mesra dan sayang). Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa kasih sayang yang diberikan oleh Ibu melalui lantunan nada pengantar tidur menciptakan kelekatan antara Ibu dan anak. Ibu memberikan energi kasih sayang kepada anak, sementara anak merespon energi tersebut yang dapat dibuktikan dengan kenyamanannya mendengarkan suara Ibu untuk kemudian tertidur lelap. Sejalan dengan pandangan etologis Bowlby yang menyatakan bahwa bayi dan Ibu secara naluriah membentuk suatu kelekatan (Santrock, 2012).
Makna kedua yang tersirat dari kakawihan Ayun Ambing adalah sebuah harapan dan do’a dari Ibu kepada anak. Ketika menidurkan anaknya dengan lantunan kakawihan Ayun Ambing, Ibu menaruh harapan yang begitu besar untuk kehidupan anak (Lerina et al., 2015). Dengan makna tersebut, kakawihan Ayun Ambing tidak hanya digunakan sebagai pengantar tidur, tetapi dapat dijumpai juga pada acara pernikahan yang digunakan sebagai lagu pengiring calon pengantin ketika melakukan prosesi sungkeman (Lerina et al., 2015). Dengan iringan kakawihan Ayun Ambing, ingatan Ibu dari calon pengantin seolah kembali ke masa ketika anaknya masih bayi dan berada dalam ayunananya. Ibu mengais dengan penuh kasih sayang dan harapan agar anaknya menjadi sukses, salah satunya adalah dengan menemukan jodoh.
Selain kedua makna tersebut, terdapat hal menarik lain yaitu kakawihan Ayun Ambing dapat digunakan sebagai terapi masalah-masalah psikis maupun psikologis dalam diri seseorang, seperti kecemasan berlebihan, memerlancar aliran darah, mengurangi denyut jantung yang berlebihan, serta membantu raga tubuh anak untuk istirahat. Penelitian terdahulu telah menggunakan kakawihan Ayun Ambing sebagai bentuk terapi alternatif pasien ginjal kronis yang menjalani hemodialis (Alamsah et al., 2018). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan mendengarkan lagu tersebut, tingkat kecemasan pasien menurun dan lagu tersebut seolah memiliki kekuatan untuk menyembuhkan penyakit dan meningkatkan kemampuan berfikir.
Masih dalam hal pengobatan atau terapi alternatif, Supriadi et al., (2015) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ketika mendengarkan kakawihan Ayun Ambing dengan tempo yang pelan, suara yang masuk ke telinga menjadi sinyal saraf yang diterima oleh otak sebagai sensasi. Ketika seseorang mendengarkan dan memersepsikan suara tersebut, maka akan menurunkan pelepasan katekolamin ke dalam pembuluh darah, sehingga tekanan darah dan denyut jantung akan menurun. Responden dari penelitian tersebut merasa bahagia mendengarkan lagu tersebut, karena mengingatkan masa lalunya yang menyenangkan, sehingga ia merasa rilex dan tekanan darahnya turun.
Kakawihan Ayun Ambing juga membantu tubuh anak untuk istirahat. Anak juga merasakan kelelahan, meskipun mereka masih dalam usia bayi atau anak-anak awal. Hal ini kemungkinan dikarenakan tubuh yang bergerak dan berpindah gendongan dari satu orang ke orang lain. Dengan mendengarkan kakawihan Ayun Ambing, anak merasa rileks, serta tubuhnya juga istirahat dalam ayunan (Wakih & Sidik, 2020).
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa media menidurkan anak dengan menggunakan kakawihan Ayun Ambing memiliki makna yang begitu mendalam terkait kasih sayang dan kelekatan antara Ibu dan anak, begitupun juga harapan Ibu agar anaknya menjadi orang yang sukses. Lebih dari itu, kakawihan Ayun Ambing juga dapat membantu psikis maupun psikologis tubuh yang mengalami kecemasan, kelelahan, serta detak jantung yang berlebihan.

REFERENSI

Editor: Rida Maulidya

Exit mobile version